Kabar

LEBUR BUDAYA DALAM KARYA TAUFIK ADAM DI INTERNATIONAL GAMELAN FESTIVAL

Ada yang berbeda dari suguhan Taufik Adam dalam pembukaan International Gamelan Festival 2018. Dibandingkan dengan dua maestro yang tampil sebelumnya, Rahayu Supanggah dan I Wayan Gde Yudane. Kedua maestro tersebut menampilkan aransemen gamelan yang menjadi latar budaya mereka masing-masing, Jawa dan Bali. Sementara, pertunjukan Taufik Adam menjadi ajang peleburan ragam kesenian musik tanah air, dari ujung barat hingga ke timur, dalam satu aransemen orkestra yang tak kalah memukau.

Tak tanggung-tanggung, Taufik Adam tidak hanya menggabungkan elemen bebunyian dari dua atau tiga daerah, melainkan lima. Ya, dalam aransemen ini penonton dapat menikmati alunan talempong, gendang Makassar, dan terompet Jawa Timuran saling menjalin dan mengisi gending karawitan Jawa yang menjadi tiang utama aransemen. Komposer berdarah Minang tersebut juga memasukan ragam ornamen vokal seperti paduan suara dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan improvisasi vokal dari Endah Laras.

“Cuma yang tiga ini (gendang Makassar, terompet Jawa Timuran, dan vokal Endah Laras) enggak saya bikin pakemnya, saya mengandalkan improvisasi mereka,” kata Taufik Adam di depan Auditorium ISI Surakarta.

Menggubah aransemen yang mengakomodasi lebih dari 30 pemain dengan alat musik yang beragam dan berbeda karakter suara tentu bukan pekerjaan gampang. Belum lagi aransemen tersebut harus dipadukan pula dengan vokalisasi dari paduan suara asal NTT yang memiliki perbedaan sistem nada. Gamelan dengan sistem nada pentatonic, sementara seni musik NTT yang memiliki sistem nada diatonik. Taufik mengakui kesulitan ini. Apalagi, ini adalah kali pertama ia harus mengorkestrasi gamelan kolosal. “Biasanya kan saya bikin gamelan itu pakai saron dua saja sudah cukup, sekarang ini ada 30 pemain, gimana semuanya bisa main? Akhirnya jadwal saya dari tiga bulan yang lalu saya cancel semua,” ungkap Taufik.

Kemudian ia menceritakan prosesnya membuat komposisi tersebut dengan membuat aransemen gamelan terlebih dahulu sebagai kerangka. “(Tapi) tidak full, setelah itu saya cocokan dengan chord vokalnya mereka (paduan suara NTT), kalau kira-kira ada nada dari gamelan yang sifatnya nabrak mereka itu langsung saya buang,” jelasnya.

Padahal, pada awalnya aransemen yang direncanakan tak sekompleks itu, hanya karawitan Jawa dipadu dengan paduan suara dari NTT. Namun, seiring dengan perkembangan proses kreatifnya, Taufik mendapat masukan dari Wakil Direktur Festival IGF, Garin Nugroho, untuk menambahkan unsur-unsur bunyi dari daerah lain di Indonesia di luar Jawa dan Bali.

“Awalnya cuma choir dengan gamelan aja, tapi terus Mas Garin bertanya bisa enggak nambahin (elemen) Batak? (elemen) Minang bisa enggak dimasukin? sampai menjelang gladi kotor di kampus ISI itu pun masih ada perubahan,” kata Taufik.

Dialog Antar Budaya

Tantangan lain bagi Taufik adalah bagaimana ia harus mengatur treatment yang sesuai untuk para seniman yang terlibat dengan latar budaya yang berbeda. Di satu sisi, ia menghadapi para pemain gamelan dari Solo dengan pembawaan yang halus, di sisi lain ia dituntut pula harus mampu menangani para penyanyi dari NTT yang memiliki karakter keras.

“Lalu ketika latihan itu mereka kalau bernyanyi enggak bisa diam, harus bergerak, jadi enggak ada lagu yang pelan di NTT itu. Maka waktu saya bikin pelan di bagian awal (lagu) itu mereka stres sebenarnya,” kata Taufik.

Paduan suara asal NTT sendiri dipilih karena kekhasan logat mereka yang dianggap mampu memperkaya aransemen karawitan. Namun, hal ini juga menemui rintangan berupa pantangan-pantangan adat. Untuk itu, Taufik harus meyakinkan para seniman tersebut bahwa yang dibawa ke atas panggung bukanlah upacara adat, tapi warna kedaerahan mereka.

Itulah mengapa, bagi Taufik karya ini dan proses pembuatannya menjadi semacam dialog antar budaya. Bagaimana para seniman dengan latar budaya yang berbeda harus saling berkolaborasi. Bagaimana elemen-elemen bunyi dari berbagai daerah dijalin sedemikian rupa hingga menjadi harmoni.

Bercerita tentang Rumah

Dalam penampilan tersebut, kelompok paduan suara dari NTT membawakan lagu yang biasa mengiringi ritual Reba. Ritual ini adalah pesta yang dilangsungkan ketika anak yang merantau pulang ke kampung halaman dan turut membangun rumah dan kampungnya.

Lagu tersebut sengaja dipilih karena sejalan dengan tema International Gamelan Festival 2018 yaitu “Homecoming” atau pulang kampung. Akan tetapi, lagu tersebut tak semata dipilih untuk merayakan kepulangan para pengrawit dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia. Pertunjukan ini juga bermaksud untuk mengingatkan lagi generasi muda kepada tradisi gamelan dan seni budaya tradisi yang mereka punya di tanah air untuk kemudian turut melestarikannya.

Menu