Kabar

EKSPRESI WUJUD SENI DALAM INTERNATIONAL GAMELAN FESTIVAL

International Gamelan Festival (IGF) hari ketiga di panggung Benteng Vastenburg menyajikan penampilan Blambangan Art School Rogojampi (Banyuwangi), Yohanes Subowo (Yogyakarta), Pardiman Djoyonegoro bersama Omah Cangkem (Yogyakarta), Siswa Sukra (UK), Sunardi dan SMKI (Yogyakarta), Wendo Setiyono (Purbalingga), serta seniman asal Surakarta, Dwi Priyo Sumarto, Sabtu 11 Agustus 2018. Cuaca dingin yang menyelimuti Kota Solo malam itu tidak menyurutkan antusiasme penonton untuk menjejali Benteng Vastenburg.

Para penampil menyajikan karya-karya terbaiknya. Pementasan dibuka oleh penampilan memukau Blambangan Art School yang menyuguhkan karya berjudul “Tembang Jajang”. Komposisi tersebut mengandung unsur budaya khas Banyuwangi dengan perpaduan instrumen angklung dan tembang tradisional. Tidak hanya menyuguhkan alunan gending, kelompok ini juga menampilkan tarian yang kian memikat penonton.

Pentas kemudian dilanjutkan dengan penampilan Yohanes Subowo dan kawan-kawan yang menyajikan karya “Crossing of The Sound” lewat kombinasi aneka ragam instrumen. Selanjutnya, para remaja dan anak-anak berbagai usia yang tergabung dalam Omah Cangkem tampil di atas panggung. Kelompok asuhan Pardiman Djoyonegoro ini menampilkan “Cangkem Bertaburan” yang dibawakan secara akapela dengan iringan gamelan slendro. Perpaduan tersebut membuat tembang tradisional yang dibawakan lebih segar dengan sentuhan nuansa pop dan komedi.

Kemudian penonton dibawa kembali dalam nuansa tradisional lewat sajian klenengan gaya klasik dari Siswa Sukra yang bermain dengan total. Begitu pula penampilan Sunardi bersama SMKI yang berusaha menampilkan orisinalitas gending gamelan yang dibawakan. Meski demikian, Sunardi tetap mengemas penampilannya dengan berbeda. Salah satunya dengan memadukan elemen visual berupa bayangan sehingga dalam pertunjukan tersebut.

Cuaca dingin yang menyergap Kota Solo sempat membuat penonton sedikit melempem. Namun, suasana kembali meriah seiring dengan hentakan karya Wendo Setiyono dengan permainan calungnya yang dinamis. Pentas hari itu kemudian ditutup dengan penampilan Dwi Priyo dan kawan-kawan dengan karya komposisi bergaya kontemporer bertajuk “Manunggal”. Ia menggabungkan instrumen gamelan Jawa dan musik barat serta tembang-tembang dalam satu sajian yang bergairah. Dwi Priyo berusaha memberikan kebaruan pada musik gamelan. Nuansa di atas panggung pun berubah seolah menjadi pertunjukan hip-hop seiring dengan naiknya rapper ke atas panggung. Gaya dan aliran musik yang dibawakan mirip dengan unit hip-hop asal Yogyakarta, Jogja Hip-hop Foundation. Penampilan tersebut mampu memukau penonton dan menjadi sajian penutup yang membuat melek moto.

Di akhir acara, Djaduk Ferianto bersama Gondrong Gunarto dan Bambang S.P sebagai pengamat musik memberikan penghargaan kepada dua kelompok kesenian dan tiga seniman yang berpengaruh dalam perkembangan kesenian lewat gamelan sebagai mediumnya. Penghargaan ini diberikan kepada komunitas seni dan budaya dalam rangka revitalisasi kebudayaan daerah. Atas dasar itu, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) menetapkan Lembaga Incling Krumpyung (Kulon Progo DIY), Sanggar Seni Tradisional Moro Seneng (Kebumen), Joko Porong (Surabaya), Sunardiyanto (Banyuwangi), dan Pardiman Djoyonegoro (Yogyakarta) sebagai penerima penghargaan. Pengharagaan diserahkan oleh Kepala BPNB, Zaimul Azzah, M.Hum dan diterima secara langsung oleh delegasi pihak terkait. IGF dalam tiga hari ini dirasa cukup memberikan suguhan yang apik melalui sajian musikal yang kompleks. (Keriyana Mahanani)

Menu