Kabar

DENTUM GAMELAN DI PANGGUNG PELOG II: DUALISME BUNYI MENGUBAH SUNYI

International Gamelan Festival (IGF) berkumandang di Panggung Pelog II Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Surakarta, Sabtu 11 Agustus 2018. Panggung tersebut mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia dan dunia yang menampilkan karya-karya terbaiknya.

Pentas dibuka dengan penampilan Surya Kencana A Hungaria dan Laring Project. Alunan bunyi gamelan sontak menyita perhatian penonton yang berangsur-angsur merapat mendekati panggung. Kendati panggung Pelog II tidak semegah panggung IGF yang lain, nyatanya penonton tetap memenuhi lokasi. Mulai dari anak kecil hingga orang tua yang hadir antusias menyaksikan sajian para penampil. Mereka pun dengan pasti memadati ruang Balai Soedjatmoko. Suasana pementasan terasa hangat karena saat itu seperti tidak ada sekat antara penampil dan penonton lantaran jarak dengan panggung yang begitu dekat.

Surya Kencana A menyajikan repertoar karya Darsono Jepang berjudul “Langgam Raket” dan dilanjutkan dengan dua karya pendek komposer Hungaria Gyorgy Ligeti, beberapa lagu dari Hungaria dan ditutup dengan “Ketawang Bronto Mendut”. Malam itu Surya Kencana A berhasil menghipnotis penonton lewat perpaduan suara sinden yang empuk, gaya rebaban yang terampil, serta suara suling yang merdu. Sajian terasa lengkap dengan sajian Wayang Suket Indonesia yang menampilkan wayang dengan visualisasi bayangan yang semakin membuat penonton semakin enggan untuk beranjak.

Tidak hanya Surya Kencana A, Laring Project arahan Gema Swaratyagita dan Woro Mustiko Siwi juga memberikan penampilan yang memukau bertajuk “Tuwakatsa”. Karya ini didedikasikan untuk mendiang Slamet Abdul Sjukur dengan komposisi gabungan instrumen gong dan vocal ensemble.

Suasana yang dihadirkan Gema dan Woro sedikit berbeda dengan penampil sebelumnya. Karya yang ditampilkan mengambil konsep pengejewantahan waktu. Aransemennya melibatkan dentum gong yang diletakkan secara horizontal kemudian dipukul dengan tangan kosong sehingga menghadirkan suara yang khas. Penampilan tersebut terasa semakin sakral dengan adanya perpaduan elemen vokal yang khas. Sentuhan dalang kondang Woro Mustiko Siwi juga semakin memperkuat konsep pertunjukan. Penampilan Gema dan Woro sekaligus menutup pementasan musikal di panggung Pelog II malam itu, tetapi riuh musik gamelan, akan berlanjut di panggung-panggung IGF lainnya. (Clara A S Junita)

Menu