Kabar

IGF HARI KEDUA MAKIN MENGGELORA

Kemeriahan IGF di hari kedua pada Jumat 10 Agustus 2018 diawali oleh penampilan kelompok dari ISBI Bandung di Panggung Slendro I di Benteng Vasternburg. Pentas kemudian dilanjutkan dengan penampilan National Concert Hall Gamelan Of Irlandia (Irlandia), Sinjang Community (Solo), Sanggar Manik Galih Colorado (USA), Gamelan Group Lambangsari (Jepang), dan Samba Sunda (Bandung).

Kelompok ISBI menyajikan lima karya bernuansa kontemporer. Aksi mereka mampu membawa penonton larut dalam ritmenya yang cepat dan dinamis. Salah satu karya yang ditampilkan berjudul “Butterfly” yaitu aransemen dengan nuansa Jawa Barat yang kental diiringi alunan saron, angklung, kendang sunda, dan suling sunda.

Kemudian tampil National Concert Hall Gamelan Of Irlandia (NCH) yang menyajikan karya-karya gamelan klasik. Dalam pertunjukan bertajuk “Musik Gamelan Dari Irlandia”, NCH menampilkan pertunjukan seni karawitan gaya Yogyakarta dan komposisi musik dari Irlandia. Salah satu gending yang mereka bawakan ialah gending “Ketawang Cakrawala” dan gending “Prau Layar karya” karya Ki Nartosabdo.

Pentas dilanjutkan dengan penampilan Sinjang Community yang juga tidak kalah memukau. Kelompok karawitan perempuan yang diprakarsai Mutiara Dewi Fatimah tersebut menyajikan aransemen dengan judul “Sinjang”. Aransemen tersebut bercerita tentang filosofi kain jarik yang erat dengan proses kelahiran, pernikahan, bahkan proses kematian. Begitu dalam makna kain jarik bagi kehidupan manusia lantas dituangkan melalui garap gamelan sekaten.

Selanjutnya tiba giliran penampilan Sanggar Manik Galih yang membawakan “Legong Manik Galih” besutan I Made Lasmawan. Aransemen gamelan bali terdengar begitu kental dalam gending ini. Karya ini merupakan komposisi baru yang terinspirasi dari Dewi Uma, Dewi Sri, Dewi Danu, dan Dewi Laksmi dalam upacara Panca Wali Krama. Sajian musiknya yang rancak ditambah dengan tarian serta vokalisasi kidung Bali menjadikan penampilan ini begitu kompleks.

Lebih lanjut, tema besar pulang kampung benar-benar terpancar dari karya berjudul “Gambyong Pareanom” yang disajikan oleh kelompok gamelan Lambangsari dari Jepang. Kelompok gamelan pertama di Jepang ini berdiri tahun 1985 di bawah naungan mendiang Prof. Fumio Koizumi dari Tokyo. Kelompok musik tersebut dibentuk untuk menjembatani kerja sama antara Indonesia dan Jepang. Oleh karena itu, penampilan ini juga menjadi simbol ucapan terima kasih mereka kepada Indonesia dan panitia International Gamelan Festival atas diplomasi budaya yang terjalin. Tidak ketinggalan tarian yang mengiringi gending “Gambyong Pare Anom” menambah esetika sajian karya yang cukup populer di Jepang ini.

Terakhir, kelompok gamelan asal Bandung, Samba Sunda tampil sebagai penutup pementasan International Gamelan Festival hari kedua di Benteng Vastenburg. Bentuk-bentuk garap baru atau fusion suguhan Samba Sunda berhasil membuat penonton terpukau. Dalam penampilan tersebut, kelompok ini membawakan dua komposisi terbarunya berjudul ”Taramurag” dan “Harepan”. Demikian sajian Internasional Gamelan Festival hari kedua, rangkaian acara ini masih berlanjut, tentunya dengan sajian gamelan berkelas dan beragam hingga kamis, 16 Agustus 2018. (Clara A S Junita)

Menu