Kabar

MENGANYAM JEJARING KEBUDAYAAN BERSAMA HALIM HARDJA

Halim Hardja adalah seorang penulis sekaligus kritikus sastra dan kebudayaan di berbagai jurnal dan media massa. Lebih dari itu, Halim Hardja juga dikenal sebagai seseorang yang membangun jaringan kebudayaan baik di Indonesia maupun di mancanegara.

Berbeda dengan budayawan lain yang umumnya berasal dari keluarga seni, laki-laki yang lahir dengan nama Liem Goan Lay ini tumbuh di keluarga petani sekaligus pedagang. Namun, alih-alih menggeluti dunia bisnis ia malah menceburkan diri dalam dunia seni dan kebudayaan. Sebabnya, menurut Halim, kontribusi masyarakat keturunan Tionghoa tidak hanya terbatas di bidang ekonomi, melainkan juga di bidang sosial dan kebudayaan.

Keterlibatan Halim Hardja dalam dunia seni budaya berawal dari partisipasinya dalam pementasan drama sejak kelas empat di Sekolah Rakyat. Dalam perjalanan kariernya di dunia teater, Ia kemudian dikenal sebagai seorang penata produksi dan sutradara. Kegiatan tersebut juga dilakukannya di rumah dengan mengatur latihan dan pementasan kelompok gambang kromong milik kakaknya, Gelora Cening, hingga sekarang.

Halim Hardja sempat menempuh pendidikan tinggi di fakultas filosofi Universitas Gadjah Mada pada 1972 sampai 1977. Sejak kecil ia memang sudah bercita-cita menjadi filsuf atau detektif. Hal itu akibat kegemaran Halim membaca sejak kecil, terutama buku-buku Agatha Christie dan buku-buku filosofi yang menjadi bagian dari koleksi bacaan di perpusatakaan pribadi orang tuanya, Lim Ching Siang.

Ketika dewasa, Halim menyelenggarakan sarasehan kesenian bertajuk Sastra Kontekstual bersama Arief Budiman dan Ariel Heryanto pada 1984 di Monumen Pers. Selain itu ia juga menulis di majalah Horison. Di sanalah ia mengenal Arief Budiman dan W. S. Rendra.

Sepak terjang Halim Hardja dalam kritik sosial budaya terus berlanjut dengan menjadi editor Antologi Bulaksumur-Malioboro bersama Linus Suryadi A. G. dan Slamet Riyadhi pada 1975. Ia pun mengorganisasikan lokakarya teater dan sastra di berbagai kota di Jawa sepanjang 1983-1988. Tidak berhenti sampai di situ, ia pula yang berada di balik Makassar Art Forum pada 1999. Aktivitasnya dalam mengorganisasikan dan menggerakan komunitas inilah yang membuatnya dikenal sebagai orang yang gemar membuat jejaring kebudayaan.

Kini, ia kembali akan membangun satu lagi jaringan kebudayaan di Blora. Ia akan menjadi salah satu pembicara dalam lokakarya penulisan yang merupakan bagian dari rangkaian Festival Folklor Blora 12-15 September mendatang.

Menu