Kabar

GENERASI MUDA PERKUAT ADAT PERKUSI

Kata orang, generasi muda sudah lupa pada budaya. Adat-istiadat tak lebih dari konsep kuno, petuah orang tua yang tidak ada gunanya untuk diterapkan pada era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi seperti sekarang ini. Apalagi memainkan musik tradisional. Huh! Primitif sekali rasanya. Anak muda lebih suka berkiblat pada musik kekinian.

Anggapan-anggapan semacam itu dibantah oleh 100 siswa SMP Negeri di Palu, Sulawesi Tengah. Lewat aksi main perkusi, mereka berkolaborasi menciptakan harmoni. Setiap sore sepulang sekolah, sejak sebulan lalu, para siswa terpilih dari 20 SMP Negeri di Ibu Kota Sulawesi Tengah berlatih keras memainkan beragam alat musik tradisi. Tabuhan rebana, tiupan suling lalove, dan resonansi yang dihasilkan saat mengetuk kakula pun terdengar sahut-menyahut dalam kolaborasi musik kolosal di lapangan SMPN 15 Palu.

Sementara sebagian anak bangga bisa bermain alat-alat musik modern, seperti piano, biola, dan gitar, para siswa SMPN Palu ini justru merasa bangga bisa memainkan alat musik tradisional. Demikian menurut keterangan Fachmi, salah seorang pelatih.

“Saya sendiri lebih mahir bermain biola,” tutur Fachmi. Ia sempat heran, tetapi juga terharu melihat keseriusan 100 siswa SMP itu berlatih perkusi. Anggota Dewan Kesenian Palu itu teringat, ketika masih seusia mereka, dia malu kalau memainkan apalagi ketahuan teman membawa alat musik tradisional. “Kami takut dibilang kampungan, enggak gaul,” ujarnya.

Kebanyakan anak-anak di luar sana juga mungkin masih ada yang berpikiran seperti itu. Akan tetapi, apa yang disaksikan Fachmi di Palu berbeda. Sekarang bagi anak-anak di sana, bisa bermain musik tradisional itu keren. “Beda dengan zaman saya muda dulu, sekarang main musik tradisional itu jadi tren di kalangan mereka.”

Semangat mereka untuk kembali mengakar pada budaya leluhurnya sejalan dengan komposisi musik yang akan mereka mainkan, Pakaroso Ada. Liriknya sederhana.

Kutesaka ada ntotua

Totua ta nompa toraka kita

Dalam bahasa Indonesia, artinya kurang lebih begini.

Kukisahkan adat nenek moyang

Nenek moyang kita selalu mengingatkan kita tentang adat nenek moyang

Fachmi menjelaskan, lagu tersebut berpesan agar masyarakat selalu ingat pada adat-istiadatnya. Lagu ini menurut dia sangat pas dibawakan oleh para murid SMP tersebut sebagai teladan sekaligus menginspirasi pemuda-pemudi Indonesia agar tetap berpegang dan memperkuat tradisi adat, serta melestarikan budaya bangsanya masing-masing.

Kelompok musik kolosal yang terdiri dari 100 Siswa SMPN di Palu ini adalah hasil didikan program kerja sama Dinas Pendidikan dan Dewan Kesenian Kota Palu selama satu tahun terakhir. Program tersebut memungkinkan semua siswa mendapatkan pelatihan keterampilan bermain alat musik tradisional di sekolah. Sebelum ini, mereka pernah tampil di Festival Lomba-lomba Seni Siwa Nusantara, tetapi masih mewakili sekolah masing-masing.

Dalam rangka Festival Gaung Sintuvu 2018, anak-anak tersebut akan berkolaborasi untuk pertama kalinya. Mereka dijadwalkan mengisi acara penutupan Palu Salonde Percussion pada Kamis, 14 Agustus 2018 di Hutan Kota Kaombona.

Menu