Kabar

INTERNATIONAL GAMELAN FESTIVAL: ANJANGSANA SITUS DI WONOGIRI, KISAH HARMONIS SENI TRADISI

Anjangsana situs adalah aktivitas kunjungan ke beberapa wilayah terpilih, meliputi Kabupaten Wonogiri, Karanganyar, Boyolali, dan Blora. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena dianggap memiliki produk kesenian yang berkaitan dengan rangkaian acara IGF.

Siang itu di Wonogiri, matahari nyaris tepat berada di atas kepala. Namun, matahari yang luar biasa terik tidak menyurutkan semangat perserta untuk mengikuti rangkaian kegiatan pada Minggu 12 Agustus 2018. Sekitar lebih dari 50 peserta, yang kebanyakan terdiri dari warga negara asing, diberangkatkan dari Solo menuju Sanggar Asta Kenya di Desa Kepuhsari, Kecamatan Manyaran, Kebupaten Wonogiri.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut dengan ramah oleh masyarakat setempat. Penyambutan peserta juga dimeriahkan aksi reog Ponorogo dan tarian jaran kepang. Para peserta dibuat takjub oleh penampilan reog yang begitu atraktif dan energik. Pemandangan tersebut lantas tidak disia-siakan oleh para peserta untuk segera mengambil gambar.

Setelah menyaksikan pertunjukan reog, peserta diajak untuk melihat aktivitas natah sungging para pengrajin wayang, yaitu kegiatan pola wayang pada kulit. Peserta anjangsana tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diperbolehkan untuk langsung mempraktikan natah sungging dipandu oleh para pengrajin. Para peserta pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Mereka berusaha membuat pola wayang kulit dan hasilnya boleh dibawa pulang.

Camat Manyaran, Rahmat Imam Santosa menjelaskan Desa Kepuhsari memang dikenal sebagai Kampung Wayang. Sebab, mayoritas warganya merupakan pengrajin wayang. Imam kemudian menambahkan, wayang bukan hanya sebagai produk kesenian bagi masyarakat setempat, lebih dari itu filosofi Jawa yang terkandung dalam kesenian wayang juga digunakan sebagai pedoman hidup oleh warga. Meski demikian, wayang bukanlah satu-satunya produk seni budaya yang berkembang di kampung ini.

Kesenian tradisi lain yang juga tumbuh dan menjadi khas Wonogiri ialah tari kethek ogleng. Kecamatan Manyaran memang memiliki pengelolaan produk kebudayaan dan pariwisata yang baik. Hal ini karena masyarakat membentuk paguyuban Kelompok Sadar Wisata (pokdarwis) di desa setempat untuk mengelolanya.

Anjangsana ini diadakan untuk menjalankan lima pilar Indonesiana. Khusus di Wonogiri, kehadiran Indonesiana melalui gelaran IGF 2018 ialah untuk menjalankan penguatan lokal. Salah satunya adalah dengan memfasilitasi penampilan pelaku budaya lokal serta memperkenalkan industri wayang kulit di Wonogiri kepada para peserta. Pemerintah setempat juga mengapresiasi kunjungan IGF ke Wonogiri.

Setelah usai rangkaian kegiatan, warga kemudian menjamu peserta dengan makan siang berupa hidangan lokal yang menjadi khas Wonogiri seperti nasi tiwul, wader kali, bothok jambu methe, jangan lombok dan lain-lain. Terlihat pula beberapa peserta anjangsana membeli wayang dan souvenir khas desa tersebut.

Sebagai penutup, para peserta disuguhi penampilan tari kethek ogleng. Pertunjukannya digelar di kebun bambu yang rimbun serta menyatu bersama warga setempat. Pemandangan tersebut merepresentasikan bentuk relasi yang baik antar pelaku kebudayaan sampai ke akar rumput. Penampilan kethek ogleng yang dikemas sarat humor menyegarkan suasana kegiatan anjangsana dan menjadi klimaks dari rangkaian lawatan tersebut. Anjangsana di Wonogiri adalah bagian penting yang sarat akan nilai penguatan budaya lokal, sekaligus memperkuat posisi seni tradisi sebagai jati diri negeri. (Joko Suyanto).

Menu