Kabar

FESTIVAL BUNYI BUNGI: MENENGOK KEMBALI ADAB TRADISI SIGI

Ranu Bungi di Desa Kambobona, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, seperti berhias, cantik bermandikan cahaya malam itu. Panggung dibangun di atasnya lengkap dengan latar menara-menara bambu berbendera merah, kuning, hitam, seperti layar perahu hendak menyapa bintang bintang di langit luas. Anak-anak, muda-mudi, dan orang tua sejak lepas Isya mulai berduyun-duyun mendatangi, berharap dapat ikut menikmati keramaian malam itu. Tak ketinggalan, ada juga pasar malam dadakan, menjual aneka penganan dan jajanan, seperti nasi kuning, cilok, gorengan, hingga pop corn.

Kamis, 30 Agustus 2018, malam itu adalah malam pembukaan Festival Bunyi Bungi. Tari Talivarani yang dibawakan enam orang anak diiringi ketukan ritmis gimba dan darasan laras para tetua menyambut kedatangan para tamu undangan. Di antaranya adalah Bupati Sigi, Muh Irwan Lapata, Ibu Norma Marjanu yang mewakili Gubernur Sulawesi Tengah, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Najamudin Ramli, Wakil Walikota Palu, Pasha Ungu.

Dalam sambutannya, Bupati Sigi, Irwan Lapata, mengapresiasi penyelenggaraan festival. "Festival ini sudah dirintis secara mandiri oleh para pelaku seni di Kabupaten Sigi," ujarnya. Lebih jauh, Irwan melihat, kawasan Ranu Bungi seluas 8 hektar tersebut sangat berpotensi sebagai lokus kebudayaan di Sigi sekaligus menjadi pusat ekonomi kerakyatan. "Ekonomi kerakyatan akan diputar di daerah ini, dan (di sini) akan dibangun gedung kebudayaan, sebuah kawasan alami sekaligus ruang ekonomi baru."

Najamudin Ramli, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, menjelaskan, penyelenggaraan festival ini merupakan pelaksanaan UU No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Budaya. "Seniman tidak lagi sebagai pelengkap penderita. Selesai acara, sudah. Tugas dan fungsi pemerintah adalah melakukan perlindungan. Kita memberi tempat berlindung untuk seniman di Kabupaten Sigi," kata Najamudin malam itu.

Festival Bunyi Bungi diselenggarakan untuk melihat kembali adab dan tradisi melalui pertunjukan musik dan kebudayaan, yang ujungnya bisa mempertajam rasa kebersamaan, saling kerja sama, individu dan masyarakat. Festival ini melibatkan 12 komunitas seni dari beberapa kabupaten, yaitu Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Parigi Moutong. Hadir juga seniman dari Makassar, Jakarta, Bali, Jogjakarta, Medan, Malang, serta dari Amerika. Pendanaan didapat dari APBD Kabupaten Sigi dan APBN.

Festival ini digelar di beberapa tempat yang berbeda selama tiga hari, mulai 30 Agustus-1 September 2018. Di samping Rano Bungi, Desa Kambobona, Sigi, festival juga melibatkan Desa Toro, Kecamatan Kuwali, Sigi. Di Desa Toro ini, selain pertunjukan kesenian, digelar pula Dialog Budaya di rumah adat Lobo. Dipilihnya Desa Toro sebagai tempat Dialog Budaya tidak lepas dari kenyataan bahwa Toro adalah salah satu desa yang hingga kini memiliki lembaga adat yang kuat. Kehadiran hukum formal berjalan seiring dengan hukum adat.

Masih berkaitan dengan adat dan tradisi, festival juga mengagendakan Kunjungan Budaya ke cagar budaya Lumpung Batu dan Cagar Budaya Arsitektur Kulawi.

Festival Bunyi Bungi merupakan satu dari 13 festival yang diadakan dengan platform Indonesiana pada 2018.

Menu