Kabar

JANURI SUTRISNO: PENJAGA SENI KENTRUNG BLORA

Uluk salam miwah ya mas kalifat Allah sangate

Ya rakhiimin bemine Allah

Kawula kawulane Allah

Kawula saderma nglakoni

Kawula saderma kekandha

Nyritakake dongeng kawula

Kata-kata itu adalah ungkapan salam (uluk salam) manusia sebagai khalifah atau utusan Allah kepada-Nya. Manusia hanya kawula atau rakyat jelata di hadapan Allah, sehingga harus mengimani serta menjalani perkataan dan kehendak-Nya. Selain diwujudkan dalam segala perilaku keseharian, ketaatan kepada Allah itu juga bisa diungkapkan manusia dalam menjalankan profesinya, termasuk sebagai dalang pencerita.

Januri Sutrisno, atau yang kerap dipanggil Mbah Kentrung, adalah generasi ketiga dalang kentrung Blora, warga Desa Sendanggayam, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Januri mulai menjadi dalang kentrung sejak tahun 2000. Tepatnya, sejak almarhum Sutrisno, ayahnya, meninggal dunia. Beberapa hari sebelum meninggal, Sutrisno yang juga dalang kentrung meminta agar putranya (Januri) melanjutkan pekerjaan yang selama ini ia tekuni.

Semula Januri ragu meneruskan profesi ayahnya. Ia mengaku pengetahuannya tentang kesenian kentrung sebatas yang ia dapat dari menemani ayahnya melakukan pentas. Padahal, ia sudah menemani ayahnya sejak tahun 1982. Selama kurun waktu itu pula, ayahnya sering mengingatkan agar Januri jangan berhenti belajar.

Amanat ayahnya ternyata benar. Saat pertama kali ditanggap mendalang, Januri langsung bisa melaksanakannya secara lancar. Padahal, ia tak melakukan persiapan apa pun. Di kemudian hari, ia rajin membaca buku peninggalan ayahnya, hingga akhirnya tanggapan demi tanggapan bisa ia penuhi dengan baik dan memuaskan. Sampai sekarang, masih ada orang dari berbagai daerah yang menanggapnya mendalang.

Kesenian kentrung sendiri adalah pertunjukan sastra lisan yang menyampaikan lakon-lakon sarat petuah hidup dan ajaran moral. Lakon-lakon itu dinyanyikan dengan bahasa khas Blora sembari diiringi rebana. Pertunjukan itu bersebutan kentrung karena suara instrumennya menimbulkan bunyi ‘trung-trung-trung’. Instrumen kesenian kentrung berupa rebana tanpa kecak dengan ukuran beragam. Tak jarang pula, rebana itu dipadukan dengan kendang.

Cerita kesenian kentrung umumnya kental . Alat musiknya pun mencerminkan kebudayaan Arab. Lakon yang dibawakan berupa hikayat para nabi (misalnya Nabi Musa dan Ibrahim), hikayat Amir Hamzah, dan seribu satu malam. Pada dekade terakhir, para dalang mengambil lakon dari babad tanah Jawa dan cerita rakyat, seperti Menakjinggo, Jaka Tarub, Blacang Nggilo, dan Puteri Gumeng. Bahasa yang digunakan cukup beragam. Bahasa yang dominan adalah bahasa Jawa Madya dan khas Blora. Tak jarang pula dalang kentrung menyelipkan kata-kata Sanskerta dan Arab.

Kesenian kentrung kini berusaha bertahan di tengah laju zaman. Pegiat kesenian ini sudah tak sebanyak dulu. Padahal, kesenian kentrung turut menandai betapa Indonesia memiliki warisan sastra lisan yang melimpah dan beragam. Januri adalah satu dari sangat sedikit dalang kentrung yang masih menjaga eksistensi kesenian itu. Tentu, yang menentukan eksistensi kesenian kentrung bukan hanya jumlah dalang, tapi tanggapan khalayak terhadap kesenian tesebut.

Disarikan dari https://nasional.kompas.com, yang ditulis oleh Hendriyo Widi

Menu