Kabar

SOESILO ANANTA TOER: SANG PENJAGA

Blora dikenal sebagai tanah kelahiran Pramoedya Ananta Toer. Di kota ini pula sastrawan besar itu dan adik-adiknya bermimpi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang gemar membaca untuk masyarakat Indonesia yang gemar menulis. Kini tinggal satu adiknya, Soesilo Ananta Toer, yang hidup untuk meneruskan mimpu tersebut. Meski ia harus memulung dan memelihara kambing serta ayam untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ialah sang penjaga dari mimpi mulia kakak beradik Toer tersebut.

Soesilo adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Orang tuanya bernama Mastoer dan Saidah. Ia adalah adik keenam dari Pramoedya Ananta Toer. Ia pula sastrawan terakhir dari trah keluarga Toer setelah ketiga kakaknya, Pram, Prawito Toer, dan Koesalah Toer meninggal dunia.

Usianya telah menginjak 81 tahun, tapi gelora hidupnya masih tinggi saat ia berkisah tentang masa lalu. Pikirannya masih tajam mengingat tanggal demi tanggal, nama tempat atau jalan, maupun detil setiap peristiwa sejarah yang menimpa keluarga dan bangsanya.

“Pram menang karena bisa menulis 50 buku, sedangkan saya baru 20 buku. Tapi saya menang dari Pram karena masih hidup di usia 81 tahun,” kata Soesilo membuka percakapan pagi di awal Juli.

Bersama istrinya, Suratiyem (51) dan anak laki-lakinya, Beni Santoso (27), Soesilo kini tinggal di rumah warisan orang tua di Jalan Sumbawa No 40, Blora, Jawa Tengah. Rumah seluas 370 meter persegi itu terlihat sama tua dengan penghuninya. Terlihat dindingnya yang kusam dan atap kayu yang mulai koyak.

Rumah itu memang sudah terlampau tua dan menjadi saksi perjalanan keluarga Toer. Selesai dibangun orang tuanya tak lama setelah Pram lahir di rumah kontrakan pada 1925, rumah itu lantas menjadi tempat kelahiran delapan adik Pram termasuk Soesilo. Rumah itu pun nyaris dibakar saat geger tahun 1965.

Di rumah itu pula Toer bersaudara bermimpi untuk mendirikan taman baca di Blora. Sayangnya, belum lagi mimpi itu terwujud, kakak-kakaknya sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Untuk itu, demi meneruskan mimpi bersama kakak-kakaknya, Soesilo mengubah dapur di samping rumah utama menjadi perpustakaan.

Dia menempatkan buku-buku koleksinya di ruangan seluas 70 meter persegi itu dan memajang puluhan lukisan wajah Pram dan tokoh lain di sekujur dinding. Nama Pram pun lalu diabadikan menjadi nama perpustakaannya, Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa atau dikenal awam dengan nama Perpustakaan Pataba.

Koleksi perpustakaan tersebut kini mencapai lebih dari 5.000 judul buku. Sejak beroperasi, perpustakaan itu telah banyak dimanfaatkan mahasiswa dan peneliti yang ingin melakukan riset, terutama tentang karya-karya Pramoedya. Sebab, perpustakaan tersebut menyimpan hampir seluruh karya Pram. Juga buku-buku koleksinya yang bejibun.

Itulah mengapa Soesilo menegaskan akan melakukan apa saja agar bisa menjaga dan melestarikan rumah masa kecil Pram serta Perpustakaan Pataba. Meskipun kini ia hanya dibantu anak sulungnya, Ben, untuk menghidupkan perpustakaan tersebut, dia ingin menjaga mimpi yang telah digelorakannya bersama Pram dan Koesalah. Mimpi tentang masyarakat Indonesia yang gemar membaca menuju masyarakat Indonesia yang gemar menulis.

Sumber: Disarikan dari Beritagar dan Pontianak Post

Menu