Kabar

MENGUBAH WAJAH BARONGAN BLORA

Seni tradisi barongan sempat lesu di Blora. Pertunjukannya yang terkesan seram dan dekat dengan unsur magis membuat masyarakat saat itu enggan menanggap salah satu seni tradisi khas kabupaten tersebut. Apalagi pertunjukan barongan sebagai tontonan juga belum awam di kalangan masyarakat di Blora. Barongan hanya dikenal sebagai salah satu syarat upacara adat seperti ritual bersih desa. Namun usaha untuk mengembalikan barongan sebagai seni tradisi yang menghibur tak lantas ikut surut.

Adi Wibowo merupakan salah satu pegiat seni yang terus melestarikan dan mengembangkan kesenian barongan di Kabupaten Blora. Kiprahnya dalam mengembangkan seni tradisi Blora konsisten selama 19 tahun sejak mendirikan paguyuban seni barongan Risang Guntur Seto pada 1999.

Ia bercerita, pada awal era 1990-an sebenarnya ada banyak paguyuban seni barongan di Blora. Namun, pertunjukan itu tidak digarap dengan baik dan terkesan seadanya. “Kebanyakan barongan di Blora saat itu masih berpenampilan seadanya dengan rambut dari tali rafia dan aksesoris mata dari beling. Pertunjukannya pun masih terkesan magis dan seram. Unsur hiburannya minim,” kata Adi Wibowo yang akrab dipanggil Didik ini.

Itulah yang membuat seni tradisi ini kemudian sulit untuk bersaing dengan seni tradisi lain yang lebih menghibur seperti tayub. Melihat lesunya geliat seni barongan, Adi bersama beberapa seniman barongan lainnya melakukan inovasi dan berkreasi. Tujuannya adalah membuat pertunjukan barongan bisa menarik pehatian penonton yang lebih luas.

Mulanya mereka memperbaiki tampilan barongan dengan menggunakan ijuk sebagai rambut kepala barong. Kemudian tabuhan iringan musik yang awalnya hanya “tholek thogling” dengan nada gamelan “mo-nem mo-nem” ditambah dengan saron demung, drum, slompret, dan alat musik khas Jawa Timuran lain sehingga menghasilkan musik yang lebih dinamis dan rancak.

Tarian yang ikut mengiringi seni barongan juga turut dikembangkan. Para penari diberi alur cerita sehingga pertunjukan barongan menjadi lebih teratur. Misalnya singa barong yang merupakan representasi Gembong Amijoyo sebagai tokoh utama pertunjukan barongan Blora. Konon, Gembong Amijoyo adalah penjaga tapal Alas Jati Wengker atau kini dikenal sebagai Kabupaten Blora. Ada pula tokoh-tokoh lain seperti gendruwoan yang menjadi perwujudan Jaka Lodra, pujangga anom, Mbok Gaenah, Untup, Nayantaka, dan pasukan kuda atau jaranan yang tampil dalam sebuah rangkaian tari yang menarik.

Usahanya tak sia-sia. Bersama seniman barongan lain di seluruh pelosok Blora, ia berhasil membuat barongan dikenal sebagai ikon budaya kabupaten tempat kelahiran sastrawan Pramoedya Ananta Toer tersebut.

Adi menyatakan sudah menjadi tugas para pelaku kebudayaan di Blora untuk terus mengenalkan dan mempromosikan seni barongan Blora. Mulai dari tingkatan lokal hingga ke taraf internasional. Seiring dengan makin dikenalnya barongan Blora, tentunya seni tradisi ini dapat terus dipertunjukkan dan diapresiasi. Untuk itu, inovasi dan pengembangan seni tradisi barongan menjadi hal yang perlu.

“Kita harus terus belajar, terus berkreasi, berinovasi, berlatih dan berlatih agar tampilan seni barongan Blora bisa lebih menarik dan menghibur. Tentunya dengan catatan tidak meninggalkan pakem dasar pertunjukan barongan Blora,” jelas Adi.

Salah satu upaya untuk terus mengenalkan dan mengapresiasi barongan Blora adalah dengan memberikannya panggung dalam festival Cerita dari Blora pada 12-15 September mendatang. Demikianlah perubahan wajah barongan Blora, yang pelan tapi pasti, menjadi salah satu cerita perjuangan seni tradisi dari Blora. Cerita itu tentu akan berlanjut ke festival-festival dan tempat-tempat lainnya.

Menu