Kabar

SERUNYA PERAYAAN BULAN PURNAMA SUKU KAILI SULAWESI TENGAH

Kondisi bulan yang bulat penuh dan bersinar terang atau kita kenal dengan bulan purnama, sering membuat orang yang memandangnya berdecak kagum. Melalui sains, kita tahu bahwa bulan adalah satelit alami Bumi, yang bisa timbul-tenggelam di langit malam tergantung pada fase orbitnya. Akan tetapi, sebelum ilmu pengetahuan berkembang sampai di situ, nenek moyang kita memaknai kehadiran bulan baru lebih dari sekadar fase bulan dalam tata surya.

Tidak sedikit yang mengaitkan hari terang bulan dengan legenda, mitos, cerita rakyat maupun kejadian dan kekuatan supranatural. Sebagian percaya kehadiran bulan purnama menandai kelahiran baru, kesempurnaan, dan pertanda datangnya hal-hal yang baik. Oleh karena itu, mereka harus menyambutnya melalui suatu perayaan adat. Sebagian lagi menghubungkan bulan purnama dengan kegilaan dan bencana. Kelompok ini pun melakukan ritual, meski dengan maksud berbeda, yakni untuk menolak bala.

Pada zaman sekarang, kita mengenal tradisi bulan purnama dalam rupa-rupa festival. Sebut saja di antaranya, Tsukimi atau tradisi memandang bulan di Jepang, Chuseok di Korea, Zhongqiu dan Cap Go Meh di China, Waisak untuk umat Buddha, Sendratari Ramayana bagi umat Hindu, Upacara Purnama untuk masyarakat Bali, dan puasa hari putih yang sering dijalani umat Islam. Meski begitu, tidak semua merayakan secara besar-besaran. Sebab beda masyarakat adat, biasanya beda pula perayaannya. Sekalinya dirakayan, festival bulan purnama selalu menarik untuk disaksikan.

Perayaan bulan purnama terdekat bisa kita saksikan di Provinsi Sulawesi Tengah. Adalah suku Kaili di Kabupaten Parigi Moutong yang dipercayakan menjadi tuan rumah dari festival bulan purnama (atau dalam bahasa kaili disebut Vula Dongga) di Sulawesi Tengah tahun ini. Edy Subianto, kurator Festival Vula Dongga, menuturkan menurut cerita rakyat Kaili, setiap kali bulan purnama, para bidadari dari kahyangan akan turun ke Bumi. Diam-diam mereka mengambil beras penduduk. Lalu menumbuknya dengan alu untuk dijadikan bedak. Keesokan paginya, saat penduduk ingin menanak nasi, mereka sudah kehabisan beras.

Kejadian itu berulang setiap bulan purnama. Sampai seseorang dari mereka mencetuskan ide yang mampu mencegah para bidadari turun ke rumah mereka lagi. Ketika para bidadari tampak turun pada hari bulang terang berikutnya, suku Kaili sudah bersiap. Kompak mereka mengadu-adukan benda-benda yang dapat menimbulkan kegaduhan. Suara ribut itu membuat para bidadari takut dan naik lagi ke kahyangan.

Seiring berjalannya waktu, Suku Kaili memodifikasi tradisinya. Setiap Purnama muncul pada pertengahan Agustus, masyarakat adat Kaili menyambutnya dengan pekan budaya. Secara akbar, Festival Vula Dongga pertama kali diadakan pada 2004. Tahun ini, di bawah payung besar program Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Indonesiana Festival Gaung Sintuvu, Festival Vula Dongga akan berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 11 sampai dengan 14 Agustus 2018. Perayaan berpusat di Taman Masigi, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Rencananya Festival Vula Dongga diawali dengan pawai budaya. Rombongan terdiri dari sekelompok masyarakat adat perwakilan delapan kabupaten di Sulawesi Tengah dan sekelompok perwakilan dari masyarakat adat Lampung Utara, sebagai tamu spesial. Pawai bergerak dari Lapangan Patriot Bambalemo sampai Taman Masigi. Jaraknya kurang lebih tiga kilometer dengan waktu tempuh 30 menit.

Di Taman Masigi, sejumlah pertunjukkan hiburan siap menyambut. Mereka yang tampil dalam acara pembukaan, antara lain penari massal Pontanu dari Sanggar Seni Parigata, pentas musik orkestra dari 45 anggota grup musik Vinculos, dan penampilan musik kreasi oleh komunitas seni Parigi Etno Fussion.

Selanjutnya selama tiga hari berturut-turut, Parigi Moutong merayakan Vula Dongga lewat pertunjukkan seni dan ritual. Tercatat, 21 komunitas seni akan beraksi dalam pertunjukkan seni musik kreasi di Taman Masigi. Dalam pertunjukkan masyarakat adat, anak-anak dan pemuda setempat akan memamerkan permainan khas Sulawesi Tengah.

“Jadi dulu itu, setiap bulan purnama saat orang dewasa sibuk menabuh gendang, anak-anak juga disuruh keluar. Mereka bermain,” sergah Edy.

Untuk anak-anak di bawah 18 tahun, akan memperagakan permainan tilako (lomba enggrang), nogasi (adu gasing), take dende (main taplak gunung), nojapi-japi (adu pelepah kelapa), dan mohanta (perang pedang kayu). Sementara para pemuda berusia 18-25 tahun dan belum menikah dapat mengikuti permainan nosivinti atau adu besi. Permainan ini mengandalkan ketahanan fisik dan kemahiran kuntau (seni olahraga beladiri tradisional SulTeng) pemainnya.

“Nosivinti biasanya akan memakan korban, dalam arti akan ada pemain yang terluka. Minimal lebam-lebam,” tambahnya.

Oleh karena itu, di akhir permainan sudah disiapkan sando alias dukun untuk menjalani ritual penyembuhan. Untuk pemain nosivinti, sando biasanya akan melancarkan ritual nejila. Dalam bahasa Kaili, nejila artinya menjilat. Dalam ritual ini, Sando akan menjilati selembar daun yang dipakai sebagai media pengobatan. Setelah merapalkan mantra, sando akan menunggu hingga daun itu mengeluarkan darah sendiri. Jika darah sudah keluar dari daun, pemain dipastikan sudah sembuh.

Selain nejila, suku Kaili mengenal ritual penyembuhan Balia. Ritual Balia dilakukan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kekuatan magis. Beda dengan nejila, Balia membutuhkan manusia dan bara api sebagai media pemurniannya. Sando akan memasukkan arwah yang bisa mengobati ke dalam tubuh seorang mediator. Mediator ini kemudian akan membuktikan dirinya sudah dirasuki dengan berjalan di atas bara api. Menyentuhnya dengan tangan, atau memasukkannya ke kantong, dan memainkannya seperti anak kecil.

Festival Gaung Sintuvu berlangsung di empat kabupaten di Sulawesi Tengah. Kabupaten Palu menggelar Palu Salonde Percussion pada 10-14 Agustus 2018, Kabupaten Sigi dengan Festival Bunyi Bungi pada 30 Agustus – 1 September, Kabupaten Poso menyajikan ritual Padungku pada September-Oktober 2018, dan Kabupaten Parigi Moutong menjadi tuan rumah perayaan Vula Dongga pada 11-14 Agustus 2018.

Menu