Kabar

KEKUATAN CERITA DI FESTIVAL CERITA DARI BLORA

Blora adalah cerita. Cerita dari Blora, yang akan digelar pada pada 12-15 September 2018, akan memanjakan pengunjung dengan berbagai cerita dalam bentuk sastra lisan dan seni tradisi. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Seni Kentrung adalah sastra lisan yang hidup di beberapa daerah, antara lain Tuban, Kediri, selain Blora sendiri. Di Kabupaten Blora, salah satu pegiat seni kentrung dijumpai di Desa Sendang Gayam, Kecamatan Banjarejo. Cerita Kentrung bukan sekadar cerita fiksi untuk hiburan, tetapi mengandung pasemon atau perlambang kehidupan manusia. Kaya ragam pesannya, sastra lisan ini sering digelar untuk berbagai keperluan: acara sunatan, perkawinan, menyambut kelahiran, upacara ruwatan, dan sedekah bumi.

Kentrung mempunyai ciri yang sangat unik. Daya tarik kesenian ini terletak pada suara dan kemampuan dalang membawakan cerita hanya dengan iringan gendang, terbang, dan kentung. Presentasi kesenian ini cukup sederhana, tidak ada dekorasi dan kostum yang dipakai dalang/panjak secara khusus.

Jedhoran, kesenian lain di Kabupaten Blora, adalah seni musik islami menggunakan peralatan musik tradisional, seperti rebana dan beduk. Jedhoran biasanya memperdengarkan syair-syair dari kitab Al-Barzanzi, yang lazim didendangkan para santri. Karena itu, pemain jedhor juga berpakaian ala santri: bersarung dan berpeci. Penabuh butuh keahlian khusus, lirik-lirik lagunya dinadakan sendiri dengan suara mendayu, syairnya berbahasa Arab. Di wilayah Kabupaten Blora, saat ini hanya tinggal 3 (tiga) grup jedhoran, salah satunya grup Al-Mujahidin, berasal dari Desa Gedongsari, Kecamatan Banjarejo. Kesenian jedhoran biasanya tampil saat ada hajatan warga, khitanan, selapanan bayi, atau resepsi pernikahan. Para pemain jedhor saat ini kebanyakan sudah berumur, rata-rata berumur 40 tahun lebih.

Tayub, salah satu bentuk tari rakyat tradisional yang sangat populer di Jawa, menghadirkan penari perempuan yang menari sambil menyanyi. Pertunjukan tayub bisa bertahan karena mempunyai fungsi sosial utama, yaitu sarana ritual, hiburan pribadi, sekaligus tontonan. Tayub sebagai tari hiburan tak semata-mata dinikmati lewat mata, tetapi juga gerak; penonton kerap diajak turun ke panggung, berpartisipasi langsung dalam pertunjukan. Pelaku pertunjukan tayub terdiri dari joged (penari perempuan; dalam pertunjukan tayub di daerah Blora dan sekitarnya), pengarih/pramugari, pengibing, pangguyub, dan pengrawit (dalam suatu pertunjukan kira-kira ada 10-20 orang) atau panjak. Bentuk pertunjukan tayub di Kabupaten Blora dapat dibedakan menjadi dua gaya, yaitu kulonan (daerah Kecamatan Todanan dan sekitarnya) dan wetanan (Kecamatan Jepon, Jiken, dan sekitarnya). Gaya wetanan presentasinya lebih erotis dan sensual, ditandai joged yang menonjolkan gerak pinggul, dada, disertai kerlingan mata.

Dalam klasifikasi pertunjukan, wayang kerucil Blora dapat digolongkan ke dalam kesenian klasik. Wayang kerucil Blora biasanya dibuat dari kayu, rata-rata ukurannya kecil. Wayang kerucil Blora sudah berkembang sebelum zaman kolonial. Cerita wayang kerucil biasanya mengambil dari hikayat Amir Hamzah atau lakon Menak. Iringan wayang kerucil menggunakan laras pelog dan iringan srepeg krucilan. Suara yang ditabuh tangan terdengar selaras dengan bunyi beduk. Sesekali berirama cepat dan rancak tapi kemudian landai.

Seni barong tak hanya berkembang di Kabupaten Blora, tapi juga hidup di banyak daerah. Bentuk dan penyajian seni barong bervariasi. Pada awalnya, barongan bersifat ritual yaitu sebagai sarana upacara seperti lamporan, ruwatan, dan wong sukerto. Sudah ada sejak lama, barongan di Kabupaten Blora pada masa Islam dipergunakan sebagai alat dan media dakwah. Di masa penjajahan Belanda, barongan dipergunakan sebagai alat propaganda melawan penjajahan Belanda. “Tholek thogling barongan mata beling... ndas buthak ditempiling,” demikian kalimat ejekan pada serdadu Belanda—yang kala itu berkepala botak—yang disisipkan dalam barongan. Di masa kemerdekaan, barongan Blora banyak dipentaskan dalam acara-acara peringatan HUT Kemerdekaan. Kini seni barong berkembang kian pesat dan diminati masyarakat sampai-sampai ada usaha penggarapan barongan ke bentuk seni pertunjukan. Barongan sudah mengalami pergeseran serta fungsi yang disesuaikan dengan proses perkembangan zaman.

Barongan Blora memakai topeng besar berbentuk harimau raksasa yang disebut singobarong, dimainkan dua orang penari bersebutan pembarong. Pembarong yang di depan bertugas sebagai kepala dan yang di belakang sebagai ekor. Barongan disajikan dalam arak-arakan maupun drama barongan yang sering disebut reog barongan. Di Kabupaten Blora dan daerah lain di Jawa Tengah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), barongan hadir dalam pertunjukan jatilan dan reog bertema cerita Panji. Menurut kepercayaan orang-orang Blora, barongan adalah jelmaan orang bernama Gembong Amijoyo. Kepercayaan itu adalah ikhtiar melegitimasi barongan dalam legenda masyarakat Blora.

Menu