Kabar

RELAWAN IGF 2018 : MUDA DAN PEDULI

Dijuluki "generasi menunduk" karena setiap saat berkutat dengan gawai tanpa kenal tempat dan waktu, generasi milenial sering dianggap hanya peduli pada apa yang sedang “hits” di media sosial. Perhatian pada lingkungan sekitar, terhadap orang yang bahkan secara fisik berada di dekatnya, hampir tidak ada. Anggapan semacam ini tidak seluruhnya tepat, apalagi jika berkaca pada apa yang kini dikenal sebagai "volunteer" atau relawan. Kehadiran IGF 2018 memupuk kepedulian generasi muda.

International Gamelan Festival 2018 yang diselenggarakan dengan platform Indonesiana adalah salah satu festival gamelan terbesar di dunia. Mengambil tajuk "Homecoming", perhelatan ini menjadi ajang mudik bagi para pengrawit yang sudah tersebar di Nusantara dan dunia. Sebanyak 19 kelompok gamelan dari berbagai negara ikut ambil bagian, 40 kelompok gamelan dari berbagai daerah di Indonesia, dan 73 kelompok dari Kota Surakarta dan sekitarnya. Selama sekitar delapan hari mereka hadir di Solo dan bersama-sama merayakan festival gamelan ini. Menurut Rahayu Supanggah, Direktur Festival, tidak kurang dari 3.700 orang terlibat dalam perhelatan ini. Lokasi acara tersebar di beberapa tempat. Bukan hanya di Solo, tetapi juga di Wonogiri, Kartasura, Boyolali, hingga Blora.

Untuk menyelenggarakan acara sebesar ini tentu tidaklah mudah jika tanpa melibatkan relawan. Sebaliknya, bagi mereka yang tertarik pada kegiatan sukarela, ini adalah ajang yang menarik untuk membina relasi, mengasah kemampuan, dan memperkaya pengalaman. Dan itulah yang kiranya terjadi.

Lushiana Primasari beberapa kali mengambil nafas panjang menahan haru saat diminta bercerita tentang "anak-anaknya". Dalam perhelatan IGF 2018 ini, Lushiana adalah koordinator relawan yang akrab dipanggil "ibu" oleh para relawan. “Energi anak anak muda yang ingin jadi relawan bikin saya optimis… ternyata mereka peduli pada budayanya," kata Lushiana, dalam wawancara di sela acara di Benteng Vastenburg. “Apalagi ketika ditanya soal gamelan, apa maknanya buatmu…, ada satu dua anak yang dengan yakin menjawab, ‘gamelan sudah jadi jalan hidup saya’. Padahal, mereka bukan dari keluarga seniman,” sambungnya.

Kota Solo, menurut Lushiana, memang tergolong sering mengadakan acara-acara kebudayaan. Kalender acara hampir setiap minggu terisi dengan acara budaya. Hal ini membuat anak-anak muda yang peduli dengan budaya terbiasa secara sukarela terlibat di dalamnya. Sedemikian berkembangnya jumlah dan antusisme mereka sampai mereka memiliki beberapa komunitas relawan sendiri.

Maka tidak heran, dalam perhelatan IGF 2018 ini Lushiana tidak kesulitan memperoleh relawan yang pas. "Ketika pendaftaran untuk umum dibuka dengan kriteria tertentu, hanya dalam waktu singkat, sekitar 240 pendaftar sudah masuk." Mereka terdiri dari berbagai kelompok usia, ada yang sudah bekerja, mahasiswa, bahkan masih duduk di bangku SMA. Dari jumlah tersebut yang tersaring sebagai relawan berjumlah sekitar 130 orang.

Tidak Sekadar Capek

Untuk acara sebesar ini, Lushiana yang sudah tiga kali menjadi koordinator relawan festival, tidak main-main dalam seleksi. "Yang pertama, dia adalah cultural enthusiast. Kedua komitmen. Tidak ada batasan usia, dan tidak selalu yang sudah berpengalaman," katanya menjelaskan kriteria seleksi. Yang tidak terpilih tentu merasa kecewa. Tetapi bagi Lushiana, menjadi relawan haruslah memberikan sesuatu bagi diri mereka sendiri. "Ada yang kecewa karena tidak masuk, bahkan sampai bilang, 'Saya nyapu aja juga tidak apa-apa, Bu'. Tetapi buat saya relawan kan bukan cuma dapat capek. Saya ingin mereka mendapat value. Kalau dia LO (liason officer), dia juga punya mimpi sebesar talent yang mereka dampingi, mulai dari melihat ketika latihan hingga kesehariannya. Lalu mereka juga harus belajar berjejaring."

Sebab itu, menurut Lushiana, dia harus benar-benar selektif ketika memutuskan siapa mendampingi talent siapa karena yang ingin dia capai bukan sekadar perjumpaan sesaat, tetapi “syukur-syukur bisa berkelanjutan”. “Dan saya senang karena beberapa di antara relawan yang pernah saya kenal suatu hari mengatakan, mereka akhirnya berhasil karena mendapat rekomendasi dari ‘talent’ yang pernah dia dampingi,” tutur Lushiana.

Pembinaan

Resti Noelya, salah seorang relawan di bidang media sosial, merasakan ketatnya proses seleksi dan persiapan menjadi relawan dalam IGF 2018. Setelah lolos wawancara, ia mendapatkan pembekalan selama sehari dari pagi sampai sore di rumah Wakil Walikota. Pembekalan ini adalah agar peserta memiliki visi yang sama dan mengenal standar layanan yang sama pula. Pembicara yang memberikan materi ditentukan oleh panitia setempat dengan berkoordinasi dengan Indonesiana.

Menurut Resti, panitia secara administratif sangat membantu para relawan. "Karena peserta ini dari berbagai latar belakang, jika kami memerlukan surat keterangan bahwa kami menjadi relawan untuk keperluan kantor atau sekolah, maka itu disediakan oleh panitia." Melalui whatsapp group, Resti juga selalu melakukan koordinasi, baik dengan ketua kelompoknya maupun dengan “ibundanya”.

IGF 2018 adalah pengalaman pertama Resti, mahasiswa Jurusan Seni Pertunjukan ISI Jogjakarta, menjadi relawan. Bahwa ini pagelaran seni pertunjukan dan diadakan di Solo, itu membuatnya segera mendaftar begitu ada lowongan dibuka. Selama ini Resti melihat Solo sebagai surganya seni pertunjukan, apalagi kali ini berskala dunia. Tetapi tidak semua relawan kesehariannya aktif dalam bidang budaya. Lushiana sendiri adalah dosen Jurusan Pidana di Fakultas Hukum, Universitas Negeri Sebelas Maret. Tetapi dia mengakui, dia memang memiliki perhatian pada kegiatan-kegiatan budaya, dan IGF ini buat dia juga suatu acara mudik. Lushiana seperti diajak “pulang” ke masa-masa di SD dan SMP, ketika dia berkenalan dengan karawitan. "Jadi gatal ingin ikutan bermain kembali setelah lihat para talent main gamelan ini," katanya. Itu sebabnya, menurut dia, menjadi relawan itu nagih, dan Resti pun sepakat. Seusai IGF 2018, dia akan mendaftar sebagai relawan lain jika ada kesempatan.

Menu