Kabar

KONSER DI ATAS TANAH RUNTUH

Kelap-kelip lampu sorot mewarnai panggung. Cahaya putih berkelintaran, mati nyala mengikuti irama. Masing-masing menghasilkan bunyinya sendiri, melodi yang berbeda tetapi bersama mampu membentuk satu harmoni yang indah. Berlatarkan pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan aroma tanah basah di atas tanah suku Kaili, malam itu para bintang menjadi saksi, hutan yang tenang berubah gegap gempita.

Palu, ibu kota Sulawesi Tengah itu berias menyambut pagelaran gebyar budaya Festival Gaung Sintuvu untuk Indonesiana. Kegiatan yang diberi nama Palu Salonde Percussion itu berpusat di Hutan Kota Kaombona yang dulunya disebut warga setempat ‘tanah runtuh’. Di atas Tanah Runtuh ini, para pemain musik dari dalam dan luar negeri akan beraksi. Di antaranya, ada konser musik orkestra dari Spanyol oleh OCAS; kolaborasi OCAS dengan grup musik perkusi Palu, Pedati; konser musik perkusi dari Sangu Patuju, berkolaborasi dengan drummer kenamaan Indonesia, Gilang Ramadan; pertunjukkan musik perkusi nusantara dari Lombok, Bali, dan Medan; ditambah perkusi lintas benua persembahan Vancover Gamelan dan Yogya Gamelan; konser kolaborasi I Wayan Balawan dan para pemain perkusi Bali; tarian adat Sulawesi Tengah, dan perkusi kolosal “Pakaroso Ada” yang dimainkan anak-anak SMP negeri se-kota Palu.

Pembukaan Palu Salonde Percussion pada Jumat 10 Agustus menjadi hari pertama warga Ibu Kota Sulawesi Tengah menjajaki Hutan Kota Kaombona. Hutan yang tadinya rimbun, sekarang telah dibuatkan jalan setapak. Hanya saja jalan menuju ke dalam hutan kota masih berbatu belum diaspal. Kiri-kanan jalan masih minim penerangan, hanya berbekal obor yang dinyalakan setiap malam sebagai penuntun. Masuk ke tengah hutan, pemerintah telah membangun tenda-tenda. Sebagian untuk UMKM berjualan, satu tenda besar untuk panggung festival, di belakangnya tenda-tenda untuk para pengisi acara dan panitia. Ya, hutan itu telah disulap menjadi aula konser terbuka dengan pemandangan yang menakjubkan, dikelilingi pepohonan dan perbukitan.

Wali Kota Palu, Hidayat mengatakan pemerintah daerah butuh waktu kurang lebih dua bulan untuk menyiapkan lokasi tersebut. “Ini semak-semak semua di sini tadinya,” tutur mantan Kepala Badan Pelatihan dan Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah tersebut.

Ia menjelaskan, hutan kota itu dikenal sebagai tanah runtuh karena dulu kawasan tersebut sering amblas ke bawah. Pasalnya, bumi Kaombona dilalui jalur patahan tektonik Palu Koro. “Jadi ini sebenarnya di sini setiap hari terjadi gempa, bahkan sampai sekarang,” kata Hidayat.

Sesar aktif itu dinamai Palu Koro karena lempengnya melintang dari Kota Palu sampai ke Kota Pipikoro di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Walaupun sudah tahu bahwa lokasi tersebut berisiko untuk ditinggali, tekad Hidayat bulat untuk membangun hutan tersebut jadi destinasi wisata baru di Palu. “Ya, sering amblas itu dulu. Saya tidak tahu pasti situasi alamnya, tetapi menurut riset terbaru pergeseran lempeng gempa di sini sudah berangsur-angsur stabil,” terangnya. Pemkot katanya juga sudah bekerja sama dengan pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk pembangunan di Hutan Kota Kaombona. “Para pembangun dari ITB ini yang tahu betul sebaran lempeng-lempeng Palu Koro itu dan akan memikirkan konstruksi teramannya.” Lebih lanjut, Hidayat berharap sebelum kepemimpinannya usai, ia bisa mencanangkan acara kebudayaan baru bertajuk Festival Palu Koro untuk memperkenalkan keindahan alam dan lingkungan di jantung Sulawesi Tengah tersebut.

Konser musik Palu Salonde Percussion, diakui Hidayat adalah batu pijakan menuju rencana pembangunan jangka panjang tersebut. Pembangunan dilakukan di atas lahan seluas 65 hektar dengan besar anggaran Rp 300 miliar. “Sejauh ini, sudah masuk dana Rp 25 miliar di sini, Kementerian PU juga sudah mengucurkan Rp 10 miliar,” ungkapnya. Kelak di Hutan Kota Kaombona ini akan dibangun amfiteater seluas 32 meter x 18 meter, berbagai sarana olahraga, kecuali lapangan sepakbola, zona viewing deck, zona sekolah alam, zona forest cottage, zona konservasi alam, kebun binatang mini, pasar seni dalam zona seni dan budaya, serta ruang rekreasi.

Palu Salonde Percussion merupakan salah satu kegiatan unggulan untuk menunjang program Indonesiana di Kota Palu yang berbasis implementasi nilai toleransi, kekeluargaan, dan gotong royong yang berakar pada kebudayaan. Kegiatan bergengsi ini disajikan dalam bentuk pertunjukan seni, kunjungan ke kampung budaya, lokakarya, seminar, karnaval, dan pameran budaya, serta melibatkan unsur lapisan masyarakat lokal dan beberapa paguyuban budaya di kota Palu.

Menu