Kabar

MISI MENGABADIKAN BUNYI TRADISIONAL KE ALAT MUSIK INTERNASIONAL

Musik Indonesia itu unik, alih-alih primitif. Musik tradisi juga menarik, jika tahu cara mengotak-atiknya. Eksplorasi bunyi-bunyian lokal bukan mustahil suatu saat akan memberikan hasil, membawa budaya Indonesia go international. Itulah mimpi Smiet, musisi asal Palu yang menjadi kurator Festival Gaung Sintuvu - Palu Salonde Percussion 2018.

Mengenal musik sejak duduk di bangku sekolah dasar, Smiet bin Abdul Hamid langsung jatuh hati pada kekayaan sumber daya bunyi yang ada di tanah kelahirannya. Ketika anak-anak seusianya menghabiskan waktu untuk bermain sepulang sekolah, Smiet keranjingan main perkusi di wilayah kelurahannya. Naik ke tingkat SMP, Smiet sudah berani unjuk gigi dalam berbagai perlombaan seni musik tradisi.

Lulus SMA, tekadnya mendalami perkusi semakin bulat. “Tamat sekolah, sa sudah terjun, naik turun gunung mengeksplorasi musik tradisi di negeri ini,” ceritanya. Dari satu desa ke desa lain, berbekal tekad yang kuat untuk mempelajari budaya Kaili, Smiet tanpa disadari menjalani studi etnografi. Ia melebur dengan warga, menemani para ‘tuaku’ (orang yang dituakan) mengobrol, menggali cerita Kaili dari para tetua, dan merekam setiap bunyi, syair, dan kisah-kisah bernada di penjuru Sulawesi.

Seandainya ada, Smiet ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, mengampu bidang seni musik perkusi. Sayang sekali, universitas di kota Palu tak satu pun yang membuka fakultas seni. Pilihan kuliah di Ibu Kota Sulawesi Tengah itu memang terbatas. Jadi Smiet hanya bisa tahu diri. Dia tidak ingin menyesali diri, apalagi meratapi kotanya sendiri. Lagipula sebuah akademi hanyalah instansi. Faktanya, guru terbaik bagi Smiet sealam ini adalah alam dan lingkungan masyarakat adat di sekitarnya.

Hal itu ia amini, sejak hatinya tertambat pada lalove. Cinta pertamanya itu adalah sebuah suling bambu warisan budaya suku Kaili yang disakralkan. Suling sepanjang 80 cm itu biasanya dipakai hanya untuk mengiringi sando (dukun) menari saat menjalankan ritual Balia atau ritual penyembuhan. Konon, bunyi yang dihasilkan instrumen perkusi tertua di Indonesia ini mampu memanggil arwah penyembuh.

Suara yang dihasilkan lalove, terang Smiet, seperti tiruan suara alam. Belakangan, ketika dia mengeksplorasi musik modern sampai ke luar negeri, Smiet terkejut bahwa alat musik peninggalan nenek moyang suku Kaili itu bisa menjembatani segala instrumen musik. “Tampaknya nenek moyang kami ini sudah punya visi yang menyatukan begitu,” ucapnya bangga.

Smiet pun berharap bisa membagi visi leluhurnya tersebut mengembangkan muatan musik lokal menjadi konsumsi global. Untuk mewujudkan mimpinya itu, mula-mula Smiet harus jadi musisi. Dia bergabung dalam Komunitas Seni Tadulako Palu. Sejak itu, permainannya bukan untuk diri sendiri lagi. Kemampuannya terasah seiring bertambahnya pengalaman pentas.

Namun, mimpi dan ambisi Smiet tak berhenti sampai di situ. Dalam mimpinya itu, Smiet ingin bebunyian tradisional Palu, dan juga suara musik tradisi di Nusantara, menggema sampai ke belantika musik internasional. Jadi ketika para pemain keyboard, misalnya, ingin menambahkan sentuhan suara-suara lokal, seperti bunyi ketukan gimba dan suling lalove, mereka tinggal memprogramnya. “Untuk bisa menciptakan program sound khusus seperti itu, harus punya ilmu teknologi informatika (IT/SI). Ada teknik yang namanya synthesizer (penyintesis).”

Synthesizer mampu memproduksi suara dalam bentuk sinyal atau gelombang suara untuk dikirim ke pembangkit suara. Teknologi ini memungkinkan para komposer bereksperimen dengan nada-nada. Di Indonesia, Gilang Ramadan dan I Wayan Belawan, termasuk musisi yang memanfaatkan jasa penyintesis ini dalam memodifikasi instrumen musiknya.

“Insyaallah, kalau lancar, pengajuan synthesizer saya untuk efek suara lokal ini bisa diterima Yamaha (produsen peralatan musik terbesar di Jepang),” tutup peraih predikat Komponis Muda terbaik Indonesia dalam suatu kompetisi di Solo pada 2004 itu.

Menu