Kabar

PAMERAN SERUPA BUNYI : PETUALANGAN ESTETIK RUPA-BUNYI GAMELAN

Bicara tentang gamelan ternyata tak hanya persoalan eksploarsi bunyi. Ada banyak aspek dari gamelan yang bisa ditelusuri. Mulai dari bentuk, mitos, hingga filosofi. Hal inilah yang coba disampaikan lima perupa dalam pameran seni rupa kontemporer bertajuk “Serupa Bunyi” di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

Kelima perupa itu ialah Edwin Raharjo, Nindityo Adipurnomo, Hanafi, Heri Dono, dan Alm. Hajar Satoto. Adapun kelima perupa dan karyanya ini dikurasi oleh Suwarno Wisetrotomo. Suwarno menyatakan kelima perupa kontemporer tersebut dipilihnya karena konsistensi mereka dalam menempatkan gamelan sebagai sumber penciptaannya. Sementara, tajuk “Serupa Bunyi” dipilih untuk mencerminkan pemaknaan gamelan yang lebih dari bunyi. Gamelan sebagai benda, ungkapan, produk ekspresi budaya, adalah benda yang bisa dimaknai tanpa tepi, dengan ruang yang begitu luas.

“Apa yang dilakukan kelima perupa ini menurut saya tak terduga memberi perspektif yang tak terduga, memperkaya pandangan kita terhadap gamelan sebagai artefak dan ekspresi kebudayaan. Mereka menempatkan kebudayaan sebagai kata kerja yang terus-menerus dimaknai,” Suwarno dalam sesi press tour, Jumat (10/8).

Lima dari enam karya yang ditampilkan dalam pameran ini adalah karya seni rupa instalasi, dan tiga di antaranya merupakan instalasi mekanik untuk memaknai kembali bunyi gamelan. Ketika pertama kali masuk ke dalam ruang pameran, boleh jadi perhatian Anda akan tertuju pada instalasi karya Nindityo Adipurnomo bertajuk Gamelan Toa.

Instalasi ini terdiri dari kain batik yang berjejer dan gamelan dari batu granit yang berevolusi menjadi toa dengan lubang berbentuk wajah manusia. Melalui instalasi ini Nindityo menyatakan ingin mengeksplorasi kembali mitos mengenai gamelan. Caranya adalah dengan mengajak pengunjung menyadari adanya kebisingan yang membangun mitos tentang gamelan dan menjauhkan kita akan makna sesungguhnya dari orkestra tradisi tersebut. Untuk itu Nindityo menyarankan pengunjung untuk membenamkan wajah pada lubang di gamelan toa buatannya tersebut agar benar-benar bisa merenungkan dan memaknai kembali ragam bunyi gamelan.

Setelah selesai menikmati instalasi Gamelan Toa karya Nindityo, Anda bisa jadi akan dikejutkan dengan ragam bunyi gamelan kinetik yang bersaut-sautan. Bebunyian itu berasal dari dua instalasi karya Heri Dono dan instalasi karya Edwin Raharjo. Meski sama-sama menggunakan medium instalasi kinetis, kedua perupa ini mengeksplorasi dua ranah yang sangat berbeda dari gamelan.

Edwin, melalui instalasinya, berusaha mengontekstualkan lagi gamelan dengan budaya kontemporer untuk mengembalikan daya pikat gamelan. Ia menceritakan rasa miris yang ia rasakan tiap kali melihat gamelan dan seni musik tradisi lainnya ditampilkan seadanya sebagai pelengkap penderitaan. Menurutnya, hal itu justru menjadi hal yang membuat seni tradisi dipandang sebelah mata dan kehilangan kemistikannya. “Makanya saya memilih pendekatan yang lebih kontemporer dengan memadukan suara, gerak, dan pencahayaan,” jelas Edwin dalam kesempatan yang sama.

Lain lagi halnya dengan Heri Dono yang mengeksplorasi sisi filosofis dalam kedua karya instalasinya di pameran tersebut. Dalam dua karyanya yang bertajuk Shock Therapy for Global Political Leaders dan Gamelan Goro-Goro, Heri menekankan eksplorasi filosofis dari gamelan yaitu sikap toleran dan empati.

Kemudian ada pula karya Alm. Hajar Satoto berupa bilah-bilah gamelan pamor. Menurut kurator pameran, Suwarno, karya ini merupakan satu bentuk perayaan terhadap estetika gamelan. Pembuatannya akan mengingatkan kita pada proses pembuatan keris yang membutuhkan ketelitian dalam proses panjang dari pemilihan biji besi hingga cara mengolahnya hingga kemudian menghasilkan pamor atau pola pada bilah-bilah besi gamelan.

Karya terakhir yang “bunyinya” tak kalah kencang adalah delapan panel lukisan karya Hanafi bertajuk Delapan Benih Bunyi. Dalam serangkaian panel lukisan tersebut, Hanafi menampilkan satu sosok Jawa yang penuh kuasa sedang mengorkestrasi bunyi yang mewujud dalam tujuh panel lukisan yang lain. Suwarno menjelaskan, panel ini dapat pula dibaca sebagai cerminan kuasa bunyi oleh penguasa kini.

Begitu luasnya interpretasi ulang dan eksplorasi pemaknaan dari gamelan dalam pameran ini, Suwarno menyatakan pameran ini menjadi wajib dikunjugi sesudah kita menyaksikan serentetan penampilan gamelan oleh para maestro. Gunanya adalah untuk menguji lagi kesadaran kita mengenai gamelan. Baik itu kesadaraan akan bentuk, bunyi, atau pun fungsinya. Pameran “Serupa Bunyi” dibuka untuk umum pada 11-15 Agustus 2018.

Menu