Kabar

IGF 2018: MENGEMBALIKAN KEGEMBIRAAN

Mata Nathasya Eki (14) berbinar-binar usai tampil bersama-sama 19 kawan lain, para pemain gamelan yang mewakili sekolahnya SMPN 4 Surakarta. Dia begitu semangat dan gembira dapat bermain gamelan dan unjuk kebolehan di hadapan umum. Itu bukan penampilan pertama mereka, karena sebelumnya gamelan SMPN 4 Surakarta pernah mengisi acara di RRI dan pentas seni sekolah. Tapi sore itu 9 Agustus 2018 sungguh istimewa karena para pengrawit cilik itu tampil di pelataran Sriwedari dalam soft opening International Gamelan Festival 2018 (IGF 2018).

Senyum puas yang sama juga terukir di wajah Nanang Aris Utomo. Mahasiswa ISI semester 5 jurusan karawitan ini tampak bersemangat sekali ketika menjadi konduktor dalam gelaran tersebut. “Bisa berpartisipasi dalam kegiatan karawitan, apalagi ini tingkatnya dunia membuat saya bahagia,” tuturnya. Bertajuk “Gamelan Bersama Masyarakat dan Pelajar”, acara soft opening dimulai pukul 15.45 dan dibuka oleh Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, Walikota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo, dan Wakil Walikota Solo, Achmad Purnomo.

Gelaran tersebut melibatkan 73 kelompok gamelan pelajar, kelurahan, dan kelompok masyarakat lain se-Surakarta. Mereka membawa sendiri perangkat gamelannya, menatanya di jalur lambat Jalan Slamet Riyadi antara Sriwedari hingga Benteng Vastenburg, dan memainkannya secara serentak dengan penuh antusias dipandu oleh 30 orang konduktor. Warga terlihat antusias menonton, memenuhi ruas jalan tersebut sambil tak ketinggalan berswafoto. Sementara pedagang kaki lima tidak membuang kesempatan untuk menikmati rejeki keriuhan acara. Rahmat, 49, penjual es teh keliling, mengaku dalam sejam telah berhasil menjual 45 gelas teh seharga Rpp5.000. “Alhamdulillah,” katanya.

Selain kelompok di atas, International Gamelan Festival 2018 (IGF 2018) yang dihelat antara 9-16 Agustus 2018 juga menampilkan 19 kelompok gamelan dari mancanegara, antara lain Inggris, Amerika, Australia, Thailand. Banyak di antara mereka yang belajar gamelan di Indonesia, khususnya Solo, menurut Hilmar. Maka, acara ini bisa menjadi ajang reuni dan Solo menjadi rumah pemudik. Penampil lain adalah 42 kelompok gamelan dari berbagai daerah di Nusantara.

IGF 2018 diselenggarakan oleh pemerintah Kota Surakarta bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui platform Indonesiana. Indonesiana merupakan inisiatif baru Dirjen Kebudayaan untuk memperkuat kapasitas daerah menyelenggarakan kegiatan budaya.

Mengorganisasi suatu festival, salah satu bentuk kegiatan budaya yang bisa mendatangkan keramaian dan kegembiraan, harus diakui tidaklah mudah. Tidak sedikit festival yang gagal menyuguhkan keriangan bukan hanya di hati penonton, tetapi juga penampil maupun pendukung acara. Platform Indonesiana, menurut Hilmar, diharapkan mampu menghadirkan kegembiraan itu kembali dengan menekankan prinsip gotong royong karena bagaimana pun kegembiaraan adalah unsur dasar suatu festival. Caranya antara lain membuka ruang dialog, percakapan, antara pemerintah daerah,para seniman dan sebanyak mungkin pihak. Di situ dicari apa yang membuat para pihak bersemangat,, kecintaannya tumbuh, hingga mau melaksanakan sesuatu dan sampai pada suatu paradigma bersama untuk mencari cara pemajuan budaya setempat. Kebekuan suatu festival kerap karena pelaksana telah memiliki pola baku yang kaku. Itu yang coba dicairkan melalui platform Indonesiana, kemesraan dalam bekerja budaya.

Menu