Kabar

RITUAL PORA'A BINANGGA PENGINGAT TERHADAP ALAM

Manusia sering kali melupakan kodratnya untuk hidup berdampingan bersama alam. Apalagi bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Mereka biasanya cenderung abai dan tak punya kepekaan untuk membaca teguran dari alam yang sedikit demi sedikit semakin dirusak.

Hal itu tidak berlaku bagi masyarakat Kaili Tara di Sulawesi Tengah. Bagi mereka, ketika alam tak bersahabat, ditandai dengan kekeringan, sumber air sawah tak lagi mengalir, dan pertanian memburuk, maka itu pertanda teguran dari alam atas kealpaan manusia yang seharusnya hidup bersama alam tetapi membanjiri sungai-sungai dengan limbah atau lupa bersyukur ketika panen melimpah.

Saat hal itu terjadi, maka tiba saatnya bagi masyarakat Kaili Tara untuk melakukan penyucian kampung oleh para tetua adat mereka melalui ritual Pora’a Binangga sebagai pengingat untuk kembali merawat alam di sekitar mereka dan memohon berkah untuk kesejahteraan masyarakat. Ritual ini dilakukan dengan mengurbankan seekor kambing jantan dewasa dan seekor ayam jantan.

Dalam ritual ini, pertama-tama gimba ditabuh untuk memanggil para leluhur supaya dapat hadir di situ. Kemudian ayam disembelih di sungai. Ketika darahnya mengalir mengenai kambing, baru kemudian kambing disembelih. Masyarakat Kaili Tara percaya darah dari hewan-hewan tersebut dapat menyucikan kembali kampung mereka. Selama prosesi berlangsung, irama gimba terus bertalu. Tetabuhan ini berfungsi untuk membangkitkan semangat dan dianggap mampu memancing gelegar petir di langit.

Konon, setelah hewan selesai disembelih dan darah mengalir sepanjang sungai, maka petir dan guntur mulai tampak di hulu sungai pertanga hujan akan turun. Hujan yang turun di hulu sungai kemudian akan mengaliri kembali sawah yang kekeringan. Sebagai rasa syukur, masyarakat kemudian akan memakan kambing yang sudah disembelih setelah diolah menjadi masakan khas Kaili Tara.

Cara memasaknya pun tak bisa sembarangan. Ada persyaratan adat yang harus dipenuhi dalam memasak kambing yang disembelih dalam ritual Pora’a Binangga, yaitu kambing tidak boleh dikuliti. Cara memasaknya cukup dibakar hingga bulunya rontok dan dicukur secara perlahan hingga halus dan rata.

Prosesi Pora’a Binangga kemudian dilanjutkan dengan memandikan salah seorang turunan pelaku adat dengan air yang disaring dari kain putih. Kain tersebut dibentangkan di atas kepala dan mengalir jatuh tepat di atas kepala di titik ubun-ubun.

Pada prosesi memandikan atau moriusi tersebut, para tetua adat melakukan dialog dengan para leluhur yang mendiami empat penjuru wilayah Kota Palu yang disebut patanggota dengan maksud menyampaikan keinginan cucu keturunan raja agar kesejahteraan masyarakat terpenuhi.

Semangat gotong royong dan kebersamaan, atau sintuvu, juga menjadi elemen yang tak terpisahkan dari ritual Pora’a Binanga. Hal ini tecermin dari bagaimana masyarakat kerap menyumbang gula, beras, dan sembako lainnya untuk keperluan ritual ini.

Ritual Pora’a Binangga kali ini akan diselenggarakan di Kawasan Wisata Alam Uventumbu di Kelurahan Kawatuna, Mantikulore, Palu. Tidak hanya sebagai pengingat terhadap alam dan permohonan berkah untuk hasil panen melimpah, ritual Pora’a Binangga ini juga akan menjadi selamatan pembuka Festival Palu Salonde Percussion yang berlangsung 10 Agustus 2018.

Sumber: Katalog Palu Nomoni, Meretas Mimpi Melintas Negeri Tahun 2016.

Menu