Kabar

SANGU PATUJU, SATUKAN TUJU JAGA KERAGAMAN LEMBAH PALU

Penyair legendaris Amerika Serikat Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882) menyatakan, “musik adalah bahasa universal”. Bahasa setiap suku dan negara boleh saja berbeda. Tetapi, musik menembus batasan-batasan bahasa. Musik, tak dapat dipungkiri, memiliki kekuatan untuk menyatukan perbedaan. Smiet Lalove, musisi perkusi asal Palu, Sulawesi Tengah pun mengamini pernyataan tersebut. Ia percaya, musik dimainkan bukan sekadar sebagai penghiburan, tetapi punya khasiat untuk mencerahkan. Dasar pemikiran inilah yang mendorong pria kelahiran 5 Agustus 1975 itu mendirikan komunitas perkusi Sangu Patuju.

“Dalam bahasa rumpun Kaili Tara, Sangu Patuju berarti satukan tujuan,” Smiet menerangkan dalam diwawancara melalui telefon dari Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

Komunitas perkusi Sangu Patuju terbentuk pada 2014. Smiet menuturkan, gagasan mengumpulkan para seniman perkusi di Palu itu tercetus karena keprihatinan mendalam terhadap konflik kekerasan berkepanjangan yang sering terjadi di daerahnya. Sebagai anak bangsa yang berbakti, dia berharap bisa melakukan sesuatu untuk mencegah konflik mewabah lebih luas sampai pada titik mengancam keutuhan bangsa dan negara.

Musik, menurutnya, dapat merekatkan berbagai kalangan. Ibarat pepatah sambil menyelam minum air, Smiet, melalui Sangu Patuju, merangkul ragam etnik di Palu unjuk kebolehan memainkan musik-musik tradisional. Dengan begitu, dia bisa melestarikan kebudayaan Palu, kebudayaan Indonesia, dan menggelorakan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Sangu Patuju mula-mula hanya beranggotakan 30 orang, sebagian besar pemuda dari Suku Kaili Tara. Suku Kaili yang mendiami lembah Palu merupakan suku yang beragam, mencakup lebih dari 30 rumpun etnik. Di antaranya, rumpun Kaili Rai, Ledo, Ija, Moma, Unde, Inde, Tara, Doi, dan Torai. Meski begitu, Smiet dan kawan-kawan di Sangu Patuju tidak berhenti pada semangat kedaerahan. Sangu Patuju sesuai misi awalnya, terus merekrut pemain musik perkusi dari beragam suku dan etnis.

“Di mata saya, Palu ini tak ubahnya sebuah kota urban. Itu artinya, Palu membuka ruang bagi saudara-saudara kita dari etnik yang berbeda untuk melebur,” ujarnya.

Giat berkumandang dari satu kampung ke kampung lain, dalam waktu singkat semangat keberagaman Sangu Patuju terdengar hingga ke telinga pemerintah setempat. Adalah Hidayat (sekarang Wali Kota Palu) yang pada 2014 menjabat sebagai Kepala Badan Pelatihan dan Pembangunan Daerah, membukakan jalan bagi Sangu Patuju melebarkan sayapnya.

Hidayat kala itu meminta Sangu Patuju untuk bermain dalam acara pembuka peluncuran buku tentang adat Palu. Sesuai tema bukunya, pertunjukan musik diharuskan Hidayat menonjolkan warna Palu yang seasli-aslinya. Smiet dan kawan-kawan menyanggupi. Persiapan dan latihan pun berlangsung tiga bulan lamanya. “Karena ini bukan musik sederhana, tetapi serius,” terangnya. Smiet berperan sebagai komposer. Sarjana Sistem Informatika itu memutar otak, membuat skenario untuk memadukan berbagai bunyi hingga menyusun lirik lagunya.

“Perkusi ini juga lambang Bhinneka Tunggal Ika,” katanya. Alat musik perkusi itu macam-macam. gimba, lalove, kakula, ketiganya merupakan alat musik khas suku Kaili yang mendiami Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi, dan Kota Palu. Biasanya ketiga alat musik tersebut dipakai untuk ritual adat penyembuhan Balia. Belakangan, ketika Sangu Patuju menggemuk jadi 68 orang alias mendapatkan tambahan pemain dari etnik lain di Palu, yakni dari etnis Tionghoa dan Bali, alat musiknya bertambah. Sangu Patuju kini juga memadukan bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh gamelan Bali, gong Bali, ceng-ceng atau gembreng, paigu atau gendang atraksi barongsai, dan dagu atau tambur. Setiap pukulan dan tiupan yang dihasilkan berasal dari ragam alat musik, beragam budaya, tetapi mampu berpadu dalam satu harmoni yang indah.

Ketika hari untuk tampil di pembukaan peluncuran buku tiba pada 2014 lalu, Sangu Patuju tampil dengan 50 pemain. Hari yang mengubah segalanya. Satu penampilan yang membuat Sangu Patuju dikenal masyarakat. “Kami jadi pembicaraan di Kota Palu,” tutur Smiet bangga. Sejak hari itu, Sangu Patuju dianggap berhasil membawa warna baru dalam belantika musik Sulawesi Tengah. Bahkan, Sangu Patuju menjadi kelompok musik multietnis pertama di Palu.

Pada 10 Agustus 2018 pukul 19.30 WITA, Sangu Patuju akan kembali unjuk gigi di acara pembukaan. Kali ini mereka terpilih menjadi penampil pertama di Palu Salonde Percussion, bagian dari Festival Gaung Sintuvu. Pengalaman bermain di sejumlah panggung tak lagi membuat para anggotanya canggung. Latihan intens jelang Palu Salonde Percussion, ungkap Smiet, dilakukan dalam waktu sebulan. Tempat latihan berpindah-pindah, kadang di Pura, kadang di kelenteng, kadang di ruang lapang lain.

“Itulah mengapa saya katakan, musik Sangu Patuju dari awal dimainkan untuk mencerahkan, bukan sekadar hiburan. Kami kolaborasi dengan segala macam pukulan, singkup-singkup lokal maupun pendatang, dengan harapan agar semangat kebhinekaan ini sampai kepada tetua adat kami,” urai Smiet.

Para pemain Sangu Patuju sendiri terbilang muda-muda. Anggota termuda berusia 12 tahun, sedangkan yang tertua berusia 46 tahun. Mungkin, harap Smiet, dengan cara begini, musiknya bisa menggerakkan hati para tetua dan masyarakat adat. Memicu ingatan mereka melayang ke masa-masa penuh damai di Palu. Kota yang didiami lebih dari 50 etnik berbeda, tetapi mampu hidup berdampingan, seperti saudara, dengan satu tujuan, sebagai satu warga negara, Indonesia.

Menu