Kabar

RITUAL ADAT PERLU DILESTARIKAN

BELU, KOMPAS - Ritual masyarakat adat menjadi salah satu warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan. Salah satu daerah yang masih memegang teguh ritual adat, yaitu di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Di Belu terdapat beberapa upacara ritual adat yang masih dilaksanakan, salah satunya ritual Bei Gege Asu atau yang memiliki arti memangun rumah adat yang diadakan pada Sabtu (21/7/2018) di Kampung Adat Dirun, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen.

Ritual ini menjadi salah satu rangkaian dalam Festival Foho Rai. Sebelumnya, diadakan kegiatan dengan nuansa berbeda di Kampung Adat Matabesi, Raimanuk, Nualain, dan Duarato. Foho Rai berarti gunung dan tanah.

Festival Foho Rai merupakan rangkaian menuju Festival Fulan Fehan yang akan digelar di lembah kaki Gunung Lakaan pada bulan September. Festival Fulan Fehan menjadi salah satu agenda festival yang masuk dalam pendampingan Platform Indonesiana yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, ritual adat dapat dirasakan sebagai peninggalan kebudayaan yang terus dihidupi oleh masyarakat yang mengenal sejarah di wilayahnya. "Peninggalan kebudayaan ini perlu dipelihara dan dilindungi sehingga dapat terus lestari," kata Hilmar dalam pidatonya.

Bupati Belu Willybrodus Lay berharap setiap tahun festival adat di daerahnya dapat terus dilaksanakan sehingga budaya yang ada tidak punah. "Festival ini akan terus dilaksanakan agar dapat menghidupkan budaya di Kabupaten Belu," ujar Willybrodus.

Ritual

Bei Gege Asu merupakan salah satu ritual yang menjadi bagian dalam prosesi agung pembangunan rumah adat Monesogo, suku Umametan di komunitas adat Dirun. Ritual ini berlangsung di Benteng Tujuh Lapis atau dalam bahasa Bunaq (bahasa asli masyarakat adat Dirun) bernama Hol Hara Ranu Hitu Dirun yang terletak di bukit Makes.

Mereka berjalan dari gerbang desa dengan beriring-iringan. Mulai dari penabuh gong utama, penari likurai yang membawa tihar (alat musik tabuh), Mako'an (orang yang menjadi sumber ilmu pengetahuan), pembawa hewan kurban, pembawa daun sirih dan pinang, dan pembawa gong terakhir.

Mereka berjalan kaki dari gerbang pertama yang terletak di kantor desa menuju lima titik pemberhentian. Perjalanan tersebut menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau dua jam perjalanan dengan mendaki perbukitan.

Di setiap titik pemberhentian, para tokoh adat mengadakan ritual Nokar. Mereka memotong hewan kurban berupa ayam jantan. Dalam proses penyembelihan, ayam tersebut tidak boleh langsung mati.

Setelah mati, usus ayam tersebut dilihat untuk melihat petunjuk dari leluhur. Apabila di usus buntu ayam tersebut berdiri, maka menunjukkan hal baik dalam proses pembangunan rumah adat. Mereka mengambil sedikit daging yang dicampur beras dan diletakkan di beberapa sudut mazbah (tempat persembahan hewan kurban atau panenan yang dipersembahkan kepada Tuhan dan leluhur).

Tujuan dari ritual ini sebagai penghormatan dan meminta petunjuk pada Tuhan serta para leluhur. Nenek moyang masyarakat adat Dirun percaya, bahwa di atas langit ada Tuhan yang Maha Kuasa.

Perjalanan tersebut berakhir di Benteng Tujuh Lapis. Benteng tersebut berada di dekat lembah Fulan Fehan dan Gunung Lakaan. Benteng tersebut berbentuk pagar batu sebanyak tujuh lapis atau tujuh tingkat pertahanan yang tersusun rapi, kuat, dan masih asli.

Di dalam benteng tersebut terdapat meriam tua peninggalan bangsa Spanyol di depan pintu masuk Saran Mot. Saran Mot berbentuk batu yang disusun melingkar yang digunakan untuk ritual utama. Di bagian luar Saran Mot terdapat kuburan para raja dan leluhur.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, bangunan benteng ini dikerjakan oleh manusia dan campur tangan makhluk gaib. Mereka meyakini benteng ini telah dibangun pada zaman megalitikum atau sebelum bangsa Portugis singgah di Desa Dirun.

Adapun ritual utama tersebut diawali dengan membentangkan tikar, tais (kain tenun), dan lesu (destar) di mazbah Mot Ranu Hitu. Di mazbah Mot Ranu Hitu, Mako'an melakukan upacara Te'a'o Hawae Hik Goni'on, yaitu menuturkan doa pada Tuhan dan leluhur.

Setelah berdoa, mereka membawa hewan kurban berupa babi di bawah mazbah. Mako'an berdoa dan membangunkan para leluhur yang disebut Bei Mil Goti'o Gogo. Selanjutnya, mereka menyebembelih babi tersebut. Babi tersebut tidak boleh langsung mati. Mereka menikam babi tersebut dan mengambil hati serta limpa. Jika hati dan limpa tersebut berlubang, maka ada pertanda buruk dalam pembangunan rumah adat.

Di depan mazbah dilakukan upacara Kaba Hosok, yaitu penerimaan berkat leluhur lewat penandaan darah babi di dahi dan dada pada orang yang akan membangun rumah adat. Di akhir ritual, para penari likurai masuk ke Saran Mot. Para peserta upacara dapat menari bersama penari likurai atau yang disebut dengan Tebe.

Pada acara hiburan, para peserta perempuan dan laki-laki saling bergandengan tangan serta menari bersama. Mereka saling berbalas pantun.

Pengamat masyarakat adat di Kabupaten Belu, Fansiskus Delvi Abanit Asa menjelaskan, pantun tersebut merupakan sastra lisan yang diturunkan oleh para leluhur dan selalu diingat oleh masyarakat adat. Pantun bertema percintaan, sindiran, dan pesan moral. Di akhir acara, para peserta makan bersama di sekitar Benteng Tujuh Lapis.

Ketua Komunitas Adat Dirun Julianus Paulus Koli menegaskan, ritual ini bertujuan sebagai sebuah ajakan untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan leluhur. "Dalam ritual Bei Gege Asu, kami membangunkan dan mengikutsertakan leluhur dalam pembangunan rumah adat." Kata Julianus dalam pidatonya.

Salah satu warga Dirun, Yuliana Lawa (50) menjelaskan, rumah adat tersebut digunakan untuk menyimpan benda-benda peninggalan leluhur, acara ritual, dan berkumpul bersama atau musyawarah. "Biasanya, orang yang merantau ke daerah lain dan kembali ke Dirun akan menanyakan rumah adat tersebut," kata Yuliana.

Selain masyarakat adat dari Desa Dirun, ritual Bei Gege Asu menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara. Mereka ingin mengetahui ritual budaya yang ada di masyarakat adat yang memiliki keunikan.

Penguatan ekosistem

Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, ritual semacara Bei Gege Asu merupakan tradisi masyarakat adat yang dilakukan secara rutin dan telah lama diadakan. Pemberian nama festival diserahkan kepada komunitas masyarakat adat untuk memudahkan orang memahami kegiatan yang ada di daerah tersebut.

Fokus dari festival yang didampingi oleh Platform Indonesiana untuk penguatan ekosistem sehingga masyarakat punya rasa memiliki terhadap budayanya. Dalam proses ini, komunikasi secara intens antara pemerintah dengan masyarakat adat sangat dibutuhkan.

Pada 2018, terdapat sembilan festival yang masuk dalam agenda Platform Indonesiana yang telah lolos dalam proses kurasi. Festival budaya tersebut tidak harus selalu dihidupi oleh masyarakat adat, namun pernah ada.

Kebudayaan yang ada kembali diberdayakan, sehingga tidak tersingkir oleh modernisasi. Salah satu faktor yang menjadi bahan pertimbangan, yaitu nilai sejarah yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.

"Melalui Platform Indonesiana diharap ada proses penggalian lebih dalam sehingga dapat menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya yang ada di masyarakat." kata Hilmar.

Sumber: kompas.id (Terbit: 23 Juli 2018 . 05:58 WIB. Oleh: Prayogi Dwi Sulistyo)

Menu