Kabar

KEMANDIRIAN KOMUNITAS SENI DI SIGI

Perjalanan Tim Indonesiana ke Sulawesi Tengah merupakan upaya menindaklanjuti empat ajuan proposal festival yang akan digelar di provinsi ini, yaitu Palu Percussion Festival di Kota Palu, Festival Bunyi Bungi di Kabupaten Sigi, Festival Fula Dongga di Kabupaten Parigi Moutong, dan Festival Seni Budaya di Kabupaten Poso. Dengan kunjungan selama tiga hari, pertemuan dengan pihak pemerintahan dan komunitas harus dipadatkan. Oleh karena itu, setiba di Kota Palu, Tim Indonesiana langsung menuju lokasi Festival Bunyi Bungi yang akan diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Sigi dan komunitas seni mereka.

Di Desa Kabobona bentangan daratan yang disebut bungi dengan sungai-sungainya membentang luas. Di kejauhan, panorama perbukitan begitu indah melingkari bungi-bungi. Bungi adalah daratan yang muncul akibat surutnya air sungai. Daratan ini menjadi berkah bagi masyarakat Sigi karena di situlah mereka bisa berkebun dan menghasilkan tanaman-tanaman yang bermanfaat sebagai bahan pangan. Tidak heran jika bagi orang Sigi, bungi adalah detak kehidupan mereka sehingga segala ritual kerap diadakan di kawasan itu.

Sesampai di Ranu Bungi, teman-teman komunitas seniman, Kepala Desa Kabobona, dan pihak dari Dinas Provinsi Sulawesi Tengah dan Kabupaten Sigi menerima kedatangan Tim Indonesiana. Kepala Desa Kabobona sangat bersemangat menjelaskan impiannya untuk menata ulang kawasan Ranu Bungi sebagai tempat berkesenian dan tentunya sebagai wilayah kunjungan wisata. Semangat yang sama bisa dirasakan saat bertemu dengan para seniman Sigi. Ternyata Festival bunyi bungi ini dirintis secara mandiri oleh para pelaku seni Sigi. Pada festival pertama, mereka sudah mampu mengundang seniman dari mancanegara melalui jaringan yang sudah terbangun. Adanya peluang bekerja sama dengan Indonesiana membuat para pelaku seni semakin bersemangat. Mereka berharap acara ini akan bergaung secara nasional.

Selanjutnya, Tim Indonesiana mengunjungi ruang seni Bubu Sopi. Ruang seni ini sebetulnya hanya berupa halaman rumah yang tidak seberapa luas dan ada semacam saung dari bambu. Di tempat tersebut mereka bisa menggelar diskusi atau sekedar ngobrol-ngobrol. Di bagian depan terdapat ruang perpustakaan sederhana dengan koleksi buku yang amat minim. Ruang Komunitas Bubu Sopi adalah salah satu dari sekitar sebelas ruang seni yang tersebar di Sigi. Ada sebelas komunitas seni yang tergabung dalam Komunitas Polelea. Dengan kegiatan yang cukup aktif, komunitas-komunitas ini menjadi basis dari Dewan Kesenian Sigi yang baru saja terbentuk. "Kemandirian adalah pijakan kami dalam berkesenian. Kalau pun pemerintah membantu karena kami telah melakukan berbagai kegiatan sebelumnya secara mandiri," ungkap salah satu pelaku seni Sigi.

Di Ruang Seni Bubu Sopi, komunitas melaksanakan program setiap dua bulan dengan menggelar pementasan seni tari, musik, dan teater. Mereka memiliki prinsip dalam berkesenian yaitu "menanam karya melawan manja". (Ade Tanesia, Tim Indonesiana).

Menu