Kabar

AMBON; LUMBUNG MUSIK TRADISIONAL DAN MODERN

"Selama ini ketika mendengar kata Ambon, yang ada dalam benak orang adalah konflik. Jadi, saya berharap kedatangan Bapak Ibu bisa membawa berita kepada siapa pun bahwa Ambon kini berbeda, Ambon sekarang sudah nyaman, tenang, dan damai." ujar Bapak Walikota Ambon saat jamuan makan malam di rumah dinasnya pada 4 April 2018. Perkataan beliau bukan omong kosong karena saat menelusuri jalan di Kota Ambon kami bisa merasakan suasana damai itu.

Kunjungan lapangan Tim Indonesiana kali ini menjadi salah satu tindak lanjut inisiatif baru yang sedang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu platform Indonesiana yang dasar pemikiran berlandaskan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Platform Indonesiana sendiri merupakan sebuah struktur hubungan terpola antarpenyelenggara kegiatan budaya yang dibangun secara gotong-royong dengan melibatkan komitmen pemerintah daerah serta pemangku kepentingan lainnya untuk penguatan ekosistem kebudayaan.

Di Kota Ambon, Tim Indonesiana melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kota Ambon, Ambon Music Office (AMO) sebagai komunitas seni yang membantu pemerintah mempersiapkan Ambon Menuju Kota Musik Dunia, serta para pelaku seni dan budaya lainnya.

Kota Ambon mengajukan ide festival musik internasional sebagai bagian dari proses menjadikan wilayahnya sebagai kota musik dunia. Bagi Indonesiana, fokus festival pada musik merupakan hal menarik, karena hal ini menunjukkan Ambon sudah melakukan refleksi tentang potensi daerahnya. Di samping itu, konflik pada masa lalu menuntut adanya sebuah "jembatan" untuk memelihara perdamaian di kota ini dan mereka telah menemukan bahwa musik merupakan salah satu alat pemersatu masyarakat.

Memosisikan musik sebagai ikon Ambon bukan tanpa alasan. Di sana, bahkan musik digunakan sebagai simbol perdamaian ketika ratusan pemuda pemain brass berkolaborasi dengan hadrat, musik Islami yang hidup di Ambon. Ya, Ambon begitu kaya dengan aneka genre musik. Genre musik brass merupakan genre musik anak muda yang dimainkan di gang-gang kampung, selain semacam musik hawaiian yang dimainkan sebagai pemanis untuk Ambon manise."

Begitu beragamnya genre musik yang berkembang di Ambon, dari tradisional hingga modern, AMO, sebagai tim inti festival, memutuskan untuk berfokus pada musik bambu, karena bambu dinilai sebagai objek pemajuan kebudayaan yang merupakan milik bersama masyarakat Ambon, baik komunitas Islam maupun Kristen. Selain itu, bambu tidak hanya digunakan pada ranah musik; ia juga digunakan dalam pertunjukan kesenian bernama Bambu Gila.

Sadar akan pentingnya penggunaan bambu, AMO berinisiatif untuk melakukan pelestarian tanaman bambu dengan mengadakan penanaman benih pohon bambu di desa Tuni dan Amahusu bekerja sama dengan Dinas Kehutanan. Festival Musik di Ambon ini akan menjadi tonggak pelestarian ekosistem budaya dan alam. Inilah sebuah jejak upaya menjadikan Ambon sebagai Kota Musik Dunia. (Ade Tanesia, Tim Indonesiana)

Menu