Kabar

SILEK: TREN ANAK MUDA SUMATERA BARAT

'Silek Arts Festival 2018' yang akan digelar di Sumatera Barat pada tanggal 7 September - 30 November 2018 merupakan satu perayaan besar seni bela diri tradisional budaya silek. Di tempat lain seni bela diri ini disebut pencak silat. Jika kata silek digunakan untuk memberi penekanan pada aspek bela diri, maka dalam bahasa Minangkabau dikenal pula kata mancak atau bungo silek (bunga silat) yang memberi penekanan pada aspek seni dan keindahan.

Sebagai salah satu warisan budaya kebanggaan masyarakat Minangkabau, silek telah menjadi sumber inspirasi perkembangan berbagai genre seni kontemporer. Hal itu tampak pada seni pertunjukan randai yang muncul sekitar tahun 1926 dalam sebuah pasar malam di Payakumbuh. Dalam pertunjukan randai, silek menjadi bahan utama legaran, yakni sebuah lingkaran tempat para pemain bergerak dengan tangkas dan tajam, sambil sesekali menepuk paha atau bagian celana galembong-nya. Celana galembong yang digunakan dalam randai itu sendiri, yakni celana dengan pisak yang panjang, merupakan modifikasi dari bentuk celana yang lazim digunakan para pandeka (pendekar) dalam latihan silek.

Selain mengandung unsur bela diri dan unsur seni gerak, silek pada dasarnya juga mengandung aspek mental dan spiritual dan juga ajaran filosofis Minangkabau. Melalui langkah-langkah dan gerak silek, orang Minangkabau diajarkan etika dan estetika sesuai dengan adagium Alam Takambang Jadi Guru. Para anak sasian (sebutan untuk murid silek) akan diberikan pemahaman tentang alam di sekitar mereka, hakikat manusia dan kekuatan transendental (makrokosmos) melalui pelajaran silek.

Dewasa ini silek muncul sebagai tren baru di kalangan anak muda di Sumatera Barat. Semakin banyak munculnya kegiatan berbasis silek yang diinisiasi oleh komunitas anak muda. Sekelompok anak muda di Padangpanjang, Sumatera Barat menyelenggarakan 'Minangkabau Silek Retreat' yang mempertemukan para pandeka dari berbagai sasaran (perguruan) dan aliran (gaya), bahkan dari manca negara. Tren serupa juga ditunjukkan oleh berbagai festival, antara lain 'Pasa Harau Art & Culture Festival', 'Payakumbuh Botuang Festival', maupun festival-festival lain yang diselenggarakan oleh komunitas mahasiswa perantau asal Minangkabau di berbagai kota. Dalam berbagai festival tersebut, silek selalu hadir sebagai pertunjukkan utama.

Melalui 'Silek Arts Festival' kita merayakan dan merasuk ke dalam sistem budaya yang mencerminkan etos kreatif dan logika tradisional Minangkabau. Kita akan menyaksikan ekosistem silek masa kini terhubung satu sama lain, cara silek berkembang hingga ke berbagai negara. Dalam acara ini pula kita akan menyaksikan silek direproduksi dalam berbagai bidang seni dan tersimpan dalam berbagai artefak budaya: sastra, pertunjukan, manuskrip, seni rupa dan lain-lain.

Menu