Kabar

ULOS: MENENUN BUDAYA YANG HAMPIR PUNAH

Festival Tenun Nusantara 2018 yang akan diselenggarakan pada 14 - 17 Oktober, digagas oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Festival ini adalah sebuah perayaan atas tradisi bertenun Ulos di Tanah Batak. Menurut penelitian Robert Blust dalam "Notes On Proto-Malayo-Polynesian Phratry Dualism" (1980), tradisi ini dipercaya sudah berlangsung selama ribuan tahun di seluruh kawasan Danau Toba. Hal ini menjadikan tradisi Tenun Ulos sebagai salah satu yang tertua di dunia dan memiliki hubungan yang kuat dengan tradisi Tenun Ikat di berbagai belahan Nusantara.

Menurut kisah lokal, dahulu kala seorang Ibu (orang tua) harus dengan penuh hormat dan kerendahan hati meminta seorang penenun di kampungnya untuk membuatkan sehelai Ulos. Ulos ini nantinya akan diberikan pada anak perempuannya yang akan menikah. Berbekal napuran (sirih dengan kapur, yang merupakan lambang permintaan tolong seseorang kepada yang lain), sang Ibu harus menggunakan kata-kata yang santun dan mangelek (membujuk) pada saat datang ke hadapan sang penenun. Apa bila hati penenun bahagia dan ia melihat kesungguhan hati sang Ibu, maka ia akan menyanggupi permintaan untuk membuatkan sehelai Ulos untuk Ibu tersebut.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa tradisi bertenun Ulos merupakan suatu hal yang sakral. Hal itu terkait dengan mitologi masyarakat Batak yang berkisah tentang penenun pertama, Si Boru Deak Parujar. Ia adalah seorang Dewi yang diturunkan dari Gunung Pusuk Buhit, tempat nenek moyang orang Batak diturunkan dari langit. Para penenun Ulos pada dasarnya adalah pelanjut keterampilan mulia, kalau bukan dianggap sebagai titisan sang Dewi dari langit itu sendiri.

Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, dimensi sakral tradisi bertenun Ulos semakin lama semakin tergerus oleh tuntutan pasar dan supply chain perekonomian. Tradisi bertenun ini kini hampir punah. Bahkan, sebagian peneliti mengatakan bahwa tradisi tersebut sudah punah (Sandra Niessen, Legacy In Cloth; Batak Textiles Of Indonesia, 2017). Kepunahan itu antara lain ditandai oleh langkanya beberapa gatip (motif) tenun lama karena tidak lagi direproduksi oleh para penenun masa kini. Bersamaan dengan kelangkaan gatip itu, tradisi tenun juga terancam oleh hilangnya kemampuan dan keterampilan tradisional tenun Ulos. Padahal, setiap motif tenun Batak memiliki nilai adat yang unik dan tidak tergantikan.

Festival ini bermaksud membuka mata dunia akan nilai tenun Ulos, baik secara budaya tradisional , maupun di dunia tekstil dan fashion. Salah satu hal yang disorot pada festival ini adalah sebuah prosesi permintaan menenunkan Ulos.

Menu