Festival

FESTIVAL FULAN FEHAN

FESTIVAL FULAN FEHAN

3 Juli - Oktober 2018

Belu, Nusa Tenggara Timur


Festival Fulan Fehan menyoroti pesona Tari Likurai yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud tahun 2016. Tari Likurai diangkat sebagai daya tarik utama festival ini sebagai upaya untuk menunjang dan memperkuat satuan budaya di daerah tersebut. Selain itu, tarian ini menjadi sarana untuk mengungkapkan nilai-nilai kerja sama, keramahtamahan, interaksi, toleransi, dan rasa saling menghargai antarindividu. Penampilan puncak dari festival ini merupakan tarian akbar yang melibatkan ribuan penari lokal di Lembah Fulan Fehan.

Warga Kabupaten Belu merupakan bagian dari masyarakat adat Timor yang hidup dalam empat kelompok suku bangsa dengan bahasa tersendiri: suku bangsa Tetum dengan rumpun bahasa Tetun; suku bangsa Bunaq (Suku Marae) yang berbahasa Bunaq; suku bangsa Dawan yang berbahasa Dawan; dan suku bangsa Kemak yang berbahasa Kemak. Umumnya, masyarakat Belu berasal dari ras Melayu Tua (Proto-Melayu) sebagai kelompok yang paling awal mendiami Pulau Timor, ras Melayu Muda (Deutero-Melayu), serta ras Asia (Cina). Baik ras Proto-Melayu, Deutero-Melayu maupun Asia, ketiganya kerap membaur dan terikat dalam sistem kekerabatan kawin-mawin yang sudah berlangsung selama beribu-ribu tahun.

Sebelum penampilan akbar di Lembah Fulan Fehan, diselenggarakan juga Festival Foho Rai di 5 titik kampung adat. Festival ini merupakan wadah untuk menampakkan ekosistem yang menunjang Tari Likurai. Sebagai satuan budaya yang diangkat dalam Festival Fulan Fehan, Tari Likurai dipampangkan dalam habitat muasalnya, yaitu kampung adat.

Lembah Fulan Fehan juga merupakan bentang alam yang menarik bagi para fotografer. Oleh karena itu, dalam festival ini dirancang "Lokakarya Fotografi" yang bertujuan mengasah kemampuan para fotografer dalam mengangkat kekayaan budaya Belu. Fotografi merupakan medium yang ampuh untuk mengekspos potensi kebudayaan. Lokakarya dilaksanakan di Atambua dan Fulan Fehan. Masih dalam rangkaian seni media baru, pemutaran film pendek bertema budaya, hasil karya para pelajar Belu yang terpilih, juga akan ditayangkan di Atambua dan Fulan Fehan.

Menu