Festival

GAUNG SINTUVU DARI SULAWESI TENGAH

GAUNG SINTUVU DARI SULAWESI TENGAH

10 Agustus - Oktober 2018

Palu, Parigi Moutong, Sigi, Poso, Sulawesi Tengah


Sintuvu berarti saling menghidupi dan berkegiatan bersama, baik dalam ranah keluarga maupun dalam konteks bermasyarakat. Dalam budaya pertanian Suku Kaili, dikenal tradisi gotong royong. Di wilayah Poso, tradisi yang sama dikenal dengan istilah lain, yaitu Mapalus - atau Babjuyu, khusus oleh etnis Taa. Pemerintah Daerah Poso menjadikan prinsip gotong royong sebagai latar belakang dari semboyan daerahnya, yaitu Sintuvu Maroso yang berarti hidup bersama dan saling menguatkan. Konsep Sintuvu lantas dikuatkan dengan motto Kabupaten Sigi, yaitu Mareso Masagena yang berarti susah dan senang bersama.

Konsep Sintuvu dirayakan melalui rangkaian festival di 4 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah. Di Kota Palu, digelar festival bertajuk Palu Solende Percussion. Pengertian Sintuvu dalam festival ini diterjemahkan melalui keterlibatan para pelaku seni dan budaya, serta jaringan dengan beberapa daerah di Indonesia dan mancanegara. Sebagai bagian dari festival ini, pada tanggal 10 - 14 Agustus 2018 akan diselenggarakan Karnaval Budaya, World Percussion, Perkusi Nusantara, Perkusi Ritual Tradisi, Workshop Perkusi, pameran Cagar Budaya Megalitikum, serta kegiatan-kegiatan lain.

Sementara itu, di kawasan Parigi Moutong akan digelar sebuah festival bertajuk Fula Dongga dalam Eksotika Khatuliswa pada tanggal 13 - 17 Agustus 2018. Festival Fula Dongga mengusung konsep Sintuvu dengan melibatkan masyarakat adat dan pelaku seni dari 13 kabupaten di Sulawesi Tengah. Fula Dongga adalah tradisi setiap bulan purnama yang masih terus dipelihara dan dijaga oleh penduduk asli dari beberapa kampung di Kabupaten Parigi Moutong.

Rangkaian kegiatan Fula Dongga terdiri dari pentas kesenian dari 13 kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah, dialog budaya dalam bingkai pertemuan adat molinsonan (forum di mana para pejabat pemerintah dan tetua adat duduk bersama, berdialog mengenai persoalan kebudayaan yang ada di masing-masing wilayah), pameran kesejarahan dan kepurbakalaan.

Selanjutnya, di kawasan Kabupaten Sigi akan digelar Festival Bunyi Bungi: Membaca Adab dan Peradaban, pada tanggal 30 Agustus - 1 September 2018. Konsep Sintuvu dalam Festival Bunyi Bungi akan diekspresikan melalui seni pertunjukan, musik, dan ritual. Bungi sendiri merupakan daratan yang terbentuk akibat surutnya air sungai. Daratan tersebut dianggap sebagai berkah, karena dengan itulah masyarakat dapat bercocok tanam. Rangkaian kegiatan dalam Festival Bunyi Bungi adalah pertunjukan seni rakyat dari 15 kecamatan; pertunjukan seni kontemporer yang menghadirkan 15 komunitas seni Sigi; komunitas dari aneka daerah seperti Palu, Donggala, Parimo dan Buol; komunitas dari manca negara seperti Austria, Jepang dan Sinegal; dan komunitas seni dari berbagai kota di nusantara seperti Bali, Solo, Aceh, dan Makasar.

Lalu, di kawasan Kabupaten Poso akan digelar Festival Budaya Daerah Padungku pada September - Oktober 2018. Padungku adalah sebuah ritual ucapan syukur Suku Pamona atas hasil panen. Ritual Padungku mengajak para penduduk membuka pintu rumahnya untuk umum, mempersilahkan siapapun menikmati hidangan makanan serta minuman. Tradisi saling mengunjungi tersebut dilakukan secara bergantian dari rumah ke rumah, lalu desa ke desa. Dalam Festival Budaya Padungku terdapat juga berbagai lomba tari dan permainan tradisional. Namun, puncak acara dari festival tersebut ialah ritual Padungku sendiri, yang dilakukan di berbagai desa di kawasan Pamona dan Tentena.

Menu