Festival

AMBOINA INTERNATIONAL BAMBOO MUSIC FESTIVAL

6–17 November 2018
Kota Ambon, Maluku

Bambu semula adalah material utama yang dipakai untuk membuat beraneka alat musik di Nusantara—sebelum digantikan oleh kayu dan selanjutnya logam. Kehidupan masyarakat Maluku tradisional sangat erat dengan bambu. Hutan bambu punya nama khusus, munae, dan mereka setidaknya mengenal delapan jenis bambu beserta fungsi spesifik masing-masing. Di suku Alune, misalnya, dikenal tapiasai (Schizostachyum lima Merill) yang umumnya dimanfaatkan untuk membuat alat musik dan tikar. Jenis lain yang juga dianggap cocok untuk membuat alat musik karena memiliki kualitas akustik yang bagus adalah ole (Schizostachyum brachycladum Kurz) atau bambu talang dalam bahasa Indonesia.

Di Pulau Ambon bambu atau buluh dikenal dengan istilah bulu. Buluh yang biasa dipakai untuk membuat alat musik, hampir sama dengan di tempat lain di Maluku, adalah bambu jawa/bambu talang dan bambu tapir—yang di suku Alune disebut tapiasai. Bambu tapir dianggap sangat cocok untuk membuat seruling, alat musik tiup yang sampai kini masih sering digunakan untuk mengiringi lagu-lagu gereja di komunitas kristiani maupun hadrat dan selawat di komunitas muslim Ambon.

Dalam rangka mewujudkan cita-cita menjadi kota musik dunia, pemerintah dan masyarakat Kota Ambon bermaksud mengangkat dan memuliakan musik bambu terutama seruling sebagai identitas budaya. Maka, pada acara puncak, Amboina International Bamboo Music/AIBM Festival menampilkan Molucca Bamboowind Orchestra/MBO. Orkes suling yang terdiri dari lima suara ini tampil dalam kolaborasi dengan berbagai musisi baik dari tingkat lokal, nasional, dan internasional pada 17 November 2018 petang. Bersama Oscar Harris, MBO membawakan lagu terkenal yang dipopulerkan Frank Sinatra, “My Way”. Mereka juga tampil bersama lima maestro seruling Nusantara dan Barry Likumahua.

Seluruh rangkaian kegiatan AIBMF diselenggarakan demi mengembangkan dan menata ekosistem musik di Kota Ambon. Berlangsung selama sembilan hari dan terdiri dari sembilan nama mata acara, kegiatan AIBMF meliputi antara lain pameran/pagelaran/karnaval budaya, pertunjukan kesenian rakyat, pameran naskah & rekaman musik, pagelaran musik & sastra, konservasi hutan bambu, dan konvensi. AIBM Convention yang diselenggarakan pada 15–17 November 2018 menjadi ajang pertemuan para ahli musik dan pemangku kepentingan untuk mendiskusikan potensi musik yang dimiliki Kota Ambon dan bagaimana cara mengelolanya agar bisa melapangkan jalan menuju Ambon kota musik dunia.

Keterangan Foto
Peserta Karnaval Budaya Nusantara melintas di dekat Lapangan Merdeka Kota Ambon, Kamis, 15 November 2018. Karnaval Budaya Nusantara yang diselenggarakan dalam rangkaian Amboina International Bamboo Music Festival diikuti oleh 43 komunitas kesenian dan etnik yang ada di Kota Ambon. Unsur kebudayaan yang ditampilkan sangat beragam, tetapi semua mengangkat hal-hal yang terkait bambu ataupun musik—Grizzly Cluivert Nahusuly.

Menu