Festival

FESTIVAL BUNYI BUNGI

Jadwal 30 Agustus - 1 September 2018

Kabupaten Sigi

Memaknai Kembali Kebudayaan Bungi

Seni selalu merupakan cerminan dari kebudayaan masyarakat tempatnya berkembang. Premis inilah yang kemudian mengilhami penyelenggaraan Festival Bunyi Bungi di Sigi pada 30 Agustus – 1 September mendatang. Festival ini mengangkat tema “Membaca Adab dan Peradaban” untuk melihat kembali perkembangan adat dan tradisi di Kabupaten Sigi yang berkaitan erat dengan bungi melalui seni pertunjukan, musik, dan ritual.

Bungi dalam definisi lokal masyarakat Kaili berarti sebuah daratan yang terbentuk karena surutnya air sungai. Lahan tersebut kemudian difungsikan sebagai area perkebunan tradisional, tambang pasir, bahkan permukiman penduduk. Secara geografis, wilayah kabupaten Sigi hingga kota palu terbelah oleh aliran sungai dan anak anak sungai, ketika tiba musim kemarau maka penduduk lokal yang daerahnya dialiri sungai akan menggunakan jalan air yang telah mengering untuk berkebun. Hal inilah menyebabkan hampir sebagian besar desa desa kabupaten Sigi dan beberapa wilayah kelurahan di Kota Palu memiliki bungi.

Bungi memang sangat dekat dengan sistem kehidupan sosial masyarakat Kaili. Oleh karena itu, Festival ini diharapkan dapat menjadi medium yang menginspirasi para pesertanya dan juga ajang apresiasi untuk terus melestarikan kebudayaan bungi. Sehingga dalam Festival Bunyi Bungi tidak ada batasan tafsir terhadap “bungi”. Untuk itu, Dewan Kesenian Sigi dan Pemerintah Kabupaten Sigi mengundang brebagai kelompok seni kontemporer dan seni rakyat untuk menunjukkan interpretasi mereka terhadap makna dan semangat kebudayaan bungi dalam karyanya. Setidaknya ada 15 kecamatan yang akan berpartisipasi dalam penampilan seni rakyat di festival ini. Ada pula sekitar 15 komunitas seni dari dalam dan luar negeri yang akan turut menampilkan pertunjukan seni kontemporer.

Meski baru diadakan untuk pertama kalinya, ternyata Festival bunyi bungi ini sudah dirintis secara mandiri oleh para pelaku seni di Kabupaten Sigi. Buktinya, mereka sudah mampu mengundang seniman dari mancanegara melalui jaringan yang sudah terbangun. Jaringan komunitas-komunitas tersebut berasal dari kota-kota di Sulawesi Tengah, Bali, Aceh, dan Makasar serta dari luar negeri seperti Austria, Jepang, dan Sinegal. Para pegiat seni di Sigi mengatakan kemandirian adalah pijakan mereka dalam berkesenian. Itu pula yang menjadi prinsip mereka dalam merealisasikan Festival Bunyi Bungi ini. Namun, kemandirian tersebut tak lantas menutup peluang kolaborasi antara pemerintah daerah dengan sebelas komunitas seni di Sigi yang tergabung dalam Komunitas Polelea.

Rangkaian Festival Gaung Sintuvu, termasuk Festival Bunyi Bungi, merupakan bagian dari platform kebudayaan Indonesiana. Kerja sama ini diharapkan mampu menambah gaung festival dan turut membangun keberlangsungan ekosistem seni dan budaya di Palu, khususnya Kabupaten Sigi. Hal ini sekaligus melaksanakan amanah Undang-Undang no.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menjadi dasar diselenggarakannya Indonesiana.

Menu